Sejarah Martapura, Pesona Kota Intan di Kalimantan Selatan, yang Terkenal di Indonesia
Ketika berbicara tentang batu permata di Indonesia, nama Martapura hampir selalu berada di urutan pertama. Kota yang terletak di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, ini telah lama dikenal sebagai Kota Intan, sebuah julukan yang lahir dari kekayaan alam berupa intan dan batu mulia yang ditemukan di wilayah tersebut.
Tidak hanya menjadi pusat perdagangan batu permata terbesar di Indonesia, Martapura juga dikenal sebagai tempat lahirnya para pengrajin batu mulia yang keahliannya diwariskan secara turun-temurun.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Kalimantan Selatan, Martapura merupakan destinasi yang hampir selalu masuk dalam daftar kunjungan.
Di kota ini, pengunjung dapat melihat langsung aktivitas pemotongan batu, proses penggosokan intan, hingga berburu berbagai jenis batu mulia dan perhiasan dengan harga yang beragam. Karena itulah Martapura sering disebut sebagai surga batu permata Nusantara.
Sejarah Panjang Batu Permata Martapura
Tradisi pertambangan dan perdagangan batu mulia di Martapura telah berlangsung sejak masa kolonial Belanda. Kekayaan mineral yang tersimpan di tanah Banjar menjadikan wilayah ini terkenal sebagai salah satu penghasil intan terbaik di Indonesia.
Nama Martapura semakin dikenal luas pada tahun 1965 ketika ditemukan sebuah berlian raksasa seberat 166,75 karat di kawasan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka.
Berlian tersebut ditemukan oleh H. Madslam bersama sejumlah pendulang tradisional. Karena ukuran dan kualitasnya yang luar biasa, Presiden Soekarno kemudian memberi nama berlian itu sebagai Intan Trisakti.
Penemuan Intan Trisakti menjadi peristiwa penting dalam sejarah pertambangan Indonesia. Hingga kini, kisah penemuan tersebut masih sering diceritakan sebagai bukti bahwa tanah Martapura menyimpan kekayaan alam yang luar biasa.
Sejak tahun 1970-an, perdagangan batu mulia semakin berkembang dengan hadirnya Pasar Intan Martapura yang kini dikenal sebagai Pasar Cahaya Bumi Selamat (CBS). Pasar ini menjadi pusat jual beli batu permata terbesar di Indonesia dan bahkan menarik pembeli dari berbagai negara.
Mengapa Martapura Disebut Kota Intan?
Julukan Kota Intan bukanlah sekadar slogan wisata. Sebutan tersebut lahir dari sejarah panjang masyarakat Martapura yang hidup berdampingan dengan aktivitas pendulangan intan dan batu mulia.
Di kawasan Cempaka dan sekitarnya, masyarakat selama puluhan tahun melakukan penambangan tradisional menggunakan metode pendulangan. Aktivitas ini masih dapat ditemukan hingga sekarang dan menjadi salah satu daya tarik wisata budaya yang unik.
Selain menghasilkan intan, wilayah Martapura juga menjadi pusat pengolahan batu mulia. Banyak pengrajin lokal yang memiliki kemampuan tinggi dalam memotong, mengasah, dan membentuk batu menjadi perhiasan bernilai tinggi.
Kombinasi antara sumber daya alam dan keterampilan pengrajin inilah yang membuat Martapura berbeda dari daerah penghasil batu lainnya.
Jenis Batu Permata yang Populer di Martapura
Salah satu daya tarik utama Martapura adalah keberagaman jenis batu mulia yang diperdagangkan. Pengunjung dapat menemukan batu dalam bentuk mentah, batu yang sudah dipoles, maupun perhiasan siap pakai.
Beberapa jenis batu permata yang populer di Martapura antara lain:
- Intan atau berlian lokal
- Safir
- Zamrud (emerald)
- Delima
- Yakut
- Topas
- Giok
- Kecubung
- Opal
- Pirus
- Mata kucing (cat's eye)
- Spinel
- Alexandrite
- Bloodstone
- Batu anggur
Selain batu-batu tersebut, terdapat pula berbagai batu akik dan batu koleksi yang banyak dicari oleh pecinta batu dari seluruh Indonesia.
Keindahan Warna Batu Permata Martapura
Salah satu alasan mengapa batu permata Martapura begitu diminati adalah variasi warnanya yang sangat kaya.
Pengunjung dapat menemukan batu berwarna merah delima yang elegan, merah siam yang tajam, kuning cempaka yang hangat, hijau zamrud yang menawan, biru safir yang mewah, ungu kecubung yang eksotis, hingga batu bening menyerupai kristal.
Perbedaan warna ini dipengaruhi oleh kandungan mineral yang terdapat di dalam batu. Semakin langka warna dan kejernihannya, biasanya semakin tinggi pula nilai jual batu tersebut.
Pasar Cahaya Bumi Selamat, Pusat Batu Permata Terbesar di Indonesia
Jika ingin berburu batu permata di Martapura, tempat pertama yang wajib dikunjungi adalah Pasar Cahaya Bumi Selamat (CBS).
Pasar ini menjadi pusat aktivitas perdagangan batu mulia di Kalimantan Selatan. Ratusan pedagang menawarkan berbagai jenis batu, mulai dari batu akik sederhana hingga intan berkualitas tinggi.
Tidak hanya melayani pembeli lokal, pasar ini juga sering dikunjungi kolektor dan pedagang dari luar negeri.
Suasana pasar sangat khas. Pengunjung dapat melihat batu-batu yang dipajang dalam etalase kecil, pedagang yang menawarkan koleksi terbaiknya, serta pengrajin yang sedang memeriksa kualitas batu menggunakan kaca pembesar.
Bagi wisatawan, pengalaman berkunjung ke Pasar CBS bukan hanya soal berbelanja, tetapi juga mengenal budaya perdagangan batu permata yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Banjar selama puluhan tahun.
Kisaran Harga Batu Permata Martapura
Harga batu permata Martapura sangat bervariasi tergantung jenis, ukuran, kejernihan, warna, dan kualitas potongannya.
Secara umum (harga bisa berubah sesuai dengan kondisi pasar), kisaran harga batu permata di Martapura adalah sebagai berikut:
- Batu akik sederhana: Rp5.000 – Rp50.000
- Kecubung, giok, dan topas: Rp50.000 – Rp500.000
- Safir, delima, dan zamrud kualitas menengah: Rp100.000 – Rp5 juta
- Batu koleksi berkualitas tinggi: Rp5 juta – Rp50 juta
- Intan lokal berkualitas premium: Rp10 juta hingga ratusan juta rupiah
Untuk batu dengan ukuran besar, kejernihan tinggi, dan sertifikasi resmi, harga dapat mencapai angka yang jauh lebih tinggi. Karena itu, pembeli disarankan memahami karakteristik batu sebelum melakukan transaksi.
Keunggulan Batu Permata Martapura Dibanding Batu Impor
Batu permata Martapura memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya tetap diminati meskipun pasar dibanjiri produk impor.
Pertama, banyak batu yang berasal langsung dari tanah Kalimantan Selatan dan diproses oleh pengrajin lokal berpengalaman.
Kedua, harga yang ditawarkan relatif lebih terjangkau dibandingkan batu impor dengan kualitas yang setara.
Ketiga, setiap batu memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat karena berkaitan dengan tradisi panjang masyarakat Banjar.
Selain itu, Martapura telah memiliki reputasi internasional sebagai pusat perdagangan batu mulia. Produk dari kota ini telah dipasarkan ke berbagai negara, termasuk Belanda, Rusia, Tiongkok, dan beberapa negara Asia lainnya.
Cara Menuju Martapura
Martapura berada sekitar 30 hingga 40 kilometer dari Kota Banjarmasin, ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan.
Perjalanan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 45 hingga 60 menit menggunakan kendaraan pribadi. Selain itu, tersedia pula berbagai pilihan transportasi umum seperti bus antarkota, angkutan lokal, taksi, dan layanan transportasi daring.
Akses jalan yang baik membuat Martapura menjadi salah satu destinasi wisata yang mudah dijangkau oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.
Batu Permata Martapura, Warisan Budaya yang Terus Bersinar
Batu permata Martapura bukan sekadar komoditas perdagangan. Di balik kilaunya tersimpan sejarah panjang, tradisi pertambangan rakyat, keterampilan pengrajin lokal, serta identitas budaya masyarakat Banjar yang telah berkembang selama berabad-abad.
Mulai dari kisah legendaris Intan Trisakti, aktivitas pendulangan tradisional di Cempaka, hingga ramainya Pasar Cahaya Bumi Selamat, semuanya menunjukkan bahwa Martapura memiliki hubungan yang sangat erat dengan dunia batu mulia.
Tidak mengherankan jika hingga saat ini Martapura tetap dikenal sebagai Kota Intan Indonesia dan menjadi salah satu pusat perdagangan batu permata paling penting di Asia Tenggara. Bagi siapa pun yang ingin mengenal lebih dekat kekayaan budaya Kalimantan Selatan, berkunjung ke Martapura adalah pengalaman yang tidak boleh dilewatkan.