Banjar Media - Connecting Banjar to The World Banjar Media - Connecting Banjar to The World

Menjembatani Banjar dengan Dunia

Press ESC to close

Lomba Musik Panting Meriahkan Anjungan Kalimantan Selatan di TMII 2026

Puluhan Grup Musik Panting Tampil Memukau di Jakarta

Suasana Anjungan Kalimantan Selatan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, pada 12 Februari 2026 tampak berbeda dari biasanya. 

Sejak pagi hari, kawasan anjungan telah dipadati pengunjung yang ingin menyaksikan Lomba Musik Panting Nasional 2026, sebuah ajang yang mempertemukan para pelestari seni musik tradisional Banjar dari berbagai daerah.

Kegiatan yang digelar oleh Dinas Kebudayaan Kalimantan Selatan bekerja sama dengan Badan Penghubung Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan di Jakarta tersebut berlangsung meriah dan penuh semangat. 

Alunan khas alat musik panting yang berpadu dengan tabuhan gendang dan irama tradisional Banjar terdengar menggema di seluruh area anjungan, menarik perhatian wisatawan yang tengah berkunjung ke TMII.

Acara ini tidak hanya menjadi kompetisi seni, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan kekayaan budaya Banjar kepada masyarakat Indonesia yang lebih luas.

Peserta Datang dari Berbagai Kota

Sebanyak 18 grup musik panting ikut ambil bagian dalam perlombaan tahun ini. Para peserta berasal dari berbagai kota dan kabupaten di Kalimantan Selatan, seperti Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura, Kandangan, Amuntai, Tanjung, Barabai, Pelaihari, Batulicin, hingga Kotabaru.

Tidak hanya dari Kalimantan Selatan, beberapa komunitas seni Banjar yang bermukim di Jakarta, Bogor, Bekasi, dan Tangerang juga turut berpartisipasi. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa musik panting masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Banjar, meskipun berada jauh dari kampung halaman.

Masing-masing grup menampilkan aransemen terbaik dengan tetap mempertahankan karakter asli musik panting yang lembut, ritmis, dan sarat nuansa Melayu Banjar.

Dihadiri Tokoh Budaya dan Pejabat Daerah

Pembukaan acara dilakukan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kalimantan Selatan, H. Muhammad Arsyad, yang dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjaga warisan budaya daerah di tengah arus modernisasi.

Turut hadir sejumlah tokoh budaya Banjar, perwakilan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, pengurus Kerukunan Bubuhan Banjar Jabodetabek, akademisi seni tradisional, serta para pegiat budaya dari berbagai provinsi.

Kehadiran para tokoh tersebut semakin menambah semarak acara dan menjadi bukti bahwa seni musik tradisional masih mendapatkan perhatian besar dari berbagai kalangan.

Penampilan Memukau Sejak Pagi Hingga Sore

Kompetisi berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Setiap grup diberikan waktu sekitar 20 menit untuk menampilkan dua lagu wajib dan satu lagu pilihan.

Beberapa grup memilih membawakan lagu-lagu Banjar legendaris seperti Paris Barantai, Sapu Tangan Babuncu Ampat, dan Uma Abah. Sementara peserta lainnya menghadirkan kreasi baru dengan sentuhan modern tanpa menghilangkan karakter asli musik panting.

Penonton tampak antusias menyaksikan setiap penampilan. Beberapa bahkan ikut bernyanyi dan bertepuk tangan mengikuti irama yang dimainkan para peserta.

Area tribun yang disediakan panitia hampir penuh sepanjang acara berlangsung. Banyak pengunjung TMII yang awalnya hanya melintas akhirnya berhenti dan menikmati pertunjukan hingga selesai.

Dewan Juri Berpengalaman

Penilaian lomba dilakukan oleh tiga juri yang berasal dari kalangan akademisi dan seniman musik tradisional Indonesia.

Ketua dewan juri, Prof. Dr. Ahmad Syafii, merupakan pakar musik etnik dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Ia didampingi oleh Nurul Hidayah, seniman musik tradisional Kalimantan Selatan, serta Bambang Prasetyo, komposer dan peneliti seni budaya Nusantara.

Penilaian meliputi kualitas permainan alat musik panting, harmonisasi kelompok, teknik vokal, penguasaan panggung, kreativitas aransemen, serta pelestarian unsur tradisional Banjar.

Menurut para juri, kualitas peserta tahun ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Grup Panting Baiman Raih Juara Pertama

Setelah melalui proses penilaian yang ketat, Grup Panting Baiman dari Kota Banjarmasin berhasil keluar sebagai Juara I.

Kelompok ini memukau dewan juri melalui penampilan lagu Paris Barantai yang dikemas dengan aransemen elegan serta permainan panting yang sangat kompak. Penampilan mereka mendapat tepuk tangan meriah dari penonton yang memenuhi area pertunjukan.

Posisi Juara II diraih Grup Panting Cahaya Banua dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan, sementara Juara III jatuh kepada Grup Panting Meratus Indah dari Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Selain itu, panitia juga memberikan penghargaan khusus untuk kategori Penampilan Terfavorit yang diraih Komunitas Panting Banjar Jakarta serta kategori Aransemen Terbaik yang dimenangkan Grup Panting Serambi Laut dari Kotabaru.

Hadiah Puluhan Juta Rupiah dan Trofi Bergilir

Pemenang Juara I menerima trofi bergilir Gubernur Kalimantan Selatan, piagam penghargaan, serta hadiah pembinaan sebesar Rp25 juta.

Juara II memperoleh hadiah Rp15 juta, sedangkan Juara III mendapatkan Rp10 juta.

Untuk kategori khusus, masing-masing penerima penghargaan memperoleh piagam dan dana pembinaan sebesar Rp5 juta.

Menurut panitia, hadiah tersebut diharapkan dapat mendukung para seniman daerah untuk terus berkarya dan melestarikan musik panting sebagai identitas budaya Banjar.

Menjadi Ajang Pelestarian Budaya Banjar

Lebih dari sekadar kompetisi, Lomba Musik Panting di Anjungan Kalimantan Selatan TMII menjadi ruang pertemuan para seniman lintas generasi.

Anak-anak muda terlihat tampil berdampingan dengan para pemain senior yang telah puluhan tahun menggeluti musik panting. Perpaduan ini menghadirkan optimisme bahwa warisan budaya Banjar akan terus hidup dan berkembang di masa mendatang.

Menjelang penutupan acara, seluruh peserta naik ke panggung bersama untuk membawakan lagu Banjar secara kolosal. Suasana haru dan kebersamaan terasa begitu kuat ketika ratusan penonton ikut bernyanyi bersama.

Perhelatan Lomba Musik Panting TMII 2026 akhirnya berakhir menjelang senja, meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta maupun pengunjung. Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, denting panting yang sederhana kembali membuktikan bahwa budaya tradisional tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Indonesia.

 

Related Posts

Lomba Memasak Soto Banjar
Bazaar Kuliner Tradisional Banjar - 19 Mei 2026
Pesta Seni Budaya Banjar - 12 Mar 2026
Pameran Kerajinan Tangan Banjar - 28 Jan 2026
Banjar Media Editorial Team

Research and Analyst Team

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *

Pengalaman Anda di situs ini akan ditingkatkan dengan mengizinkan cookie.