Merayakan Warisan Kuliner Khas Kalimantan Selatan
Aroma Rempah yang Menghidupkan Suasana Lomba
Sejak pagi hari, kawasan Taman Budaya Banjarmasin telah dipenuhi oleh aroma rempah yang menggoda selera. Wangi kayu manis, cengkeh, kapulaga, pala, dan serai berpadu di udara, menciptakan suasana yang langsung mengingatkan siapa pun pada salah satu kuliner paling legendaris dari Kalimantan Selatan, yaitu Soto Banjar.
Hari itu, ratusan pengunjung berkumpul untuk menyaksikan Lomba Memasak Soto Banjar 2026, sebuah ajang yang mempertemukan para pecinta kuliner, pelaku usaha makanan, hingga juru masak profesional dari berbagai daerah.
Acara ini tidak hanya menjadi kompetisi memasak, tetapi juga menjadi perayaan budaya yang mengangkat salah satu warisan kuliner paling berharga milik masyarakat Banjar.
Deretan tenda peserta tampak berjajar rapi. Asap tipis dari rebusan kaldu ayam kampung mengepul perlahan dari setiap stan, sementara para peserta sibuk menyiapkan racikan rempah terbaik mereka.
Peserta Datang dari Berbagai Kota
Kompetisi tahun ini diikuti oleh puluhan peserta yang datang dari berbagai kota di Indonesia. Ada perwakilan dari Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura, Kandangan, Amuntai, Batulicin, Balikpapan, Samarinda, Pontianak, hingga Jakarta.
Masing-masing peserta membawa resep andalan yang telah diwariskan dalam keluarga selama bertahun-tahun. Beberapa mengaku telah mempelajari Soto Banjar sejak kecil, sementara yang lain datang untuk menunjukkan kreativitas mereka dalam mengolah hidangan tradisional tanpa menghilangkan cita rasa aslinya.
Meski berasal dari latar belakang yang berbeda, seluruh peserta memiliki tujuan yang sama, yaitu menghadirkan Soto Banjar terbaik dengan rasa yang mampu memikat hati para juri.
Keunikan Soto Banjar yang Menjadi Penilaian Utama
Dalam sambutannya, Ketua Panitia, Ahmad Rahman, menjelaskan bahwa para peserta tidak hanya dinilai dari cita rasa semata, tetapi juga dari kemampuan mereka mempertahankan karakter asli Soto Banjar.
Menurutnya, Soto Banjar memiliki keunikan yang membedakannya dari berbagai jenis soto di Indonesia. Kuahnya tidak menggunakan kunyit sehingga tidak berwarna kuning pekat seperti kebanyakan soto Nusantara.
Sebaliknya, kuah Soto Banjar memiliki warna krem yang lembut, berasal dari perpaduan santan dan kaldu ayam kampung yang kaya rasa.
Aroma rempah menjadi faktor penting yang diperhatikan para juri. Kehadiran kayu manis, pala, cengkeh, kapulaga, dan serai harus terasa seimbang tanpa ada satu rempah yang terlalu dominan.
Selain itu, penggunaan ayam kampung menjadi nilai tambah karena menghasilkan kaldu yang lebih gurih dan kaya rasa.
Pelengkap seperti perkedel kentang, telur bebek asin, serta intip goreng juga menjadi bagian penting dalam penilaian karena merupakan ciri khas Soto Banjar yang tidak ditemukan pada banyak jenis soto lainnya.
Dinilai oleh Chef dan Ahli Kuliner Nasional
Kompetisi bergengsi ini menghadirkan sejumlah juri profesional yang terdiri dari Chef Arif Nugraha, Chef Maya Pradana, dan pengamat kuliner Nusantara, Budi Santoso.
Selama proses penjurian, para juri tampak serius mencicipi setiap hidangan yang disajikan. Mereka memperhatikan warna kuah, aroma rempah, tekstur ayam kampung, kelembutan ketupat, hingga keseimbangan rasa gurih yang menjadi identitas Soto Banjar.
Chef Arif Nugraha mengatakan bahwa tantangan terbesar dalam memasak Soto Banjar adalah menjaga harmoni rempah-rempah agar tetap terasa elegan.
Menurutnya, Soto Banjar bukan sekadar makanan berkuah, melainkan representasi perjalanan sejarah panjang yang mempertemukan berbagai budaya dalam satu mangkuk.
Warisan Lima Budaya dalam Semangkuk Soto Banjar
Salah satu hal yang membuat para pengunjung tertarik adalah kisah sejarah di balik Soto Banjar. Banyak yang baru mengetahui bahwa kuliner ini lahir dari pertemuan lima budaya besar, yaitu Banjar, Jawa, Arab, Tionghoa, dan India.
Perpaduan tersebut menciptakan karakter rasa yang unik dan berbeda dari soto di daerah lain. Pengaruh budaya Arab dan India terlihat pada penggunaan rempah-rempah yang kaya. Sementara tradisi kuliner Banjar memberikan sentuhan lokal yang membuat cita rasanya tetap khas dan mudah dikenali.
Inilah yang membuat Soto Banjar sering disebut sebagai salah satu simbol keberagaman budaya yang berhasil diwujudkan dalam bentuk kuliner.
Pengumuman Pemenang yang Menegangkan
Menjelang sore hari, seluruh peserta dan pengunjung berkumpul di depan panggung utama untuk menantikan hasil penilaian.
Setelah melalui proses diskusi yang cukup panjang, dewan juri akhirnya mengumumkan para pemenang.
Juara pertama diraih oleh Siti Nurhaliza dari Banjarbaru, yang berhasil memukau juri dengan kuah santan yang lembut, aroma rempah yang seimbang, dan penyajian yang sangat autentik.
Posisi juara kedua ditempati oleh Muhammad Rizki dari Martapura, sementara juara ketiga diraih oleh Dewi Lestari dari Balikpapan.
Ketika nama para pemenang diumumkan, tepuk tangan meriah langsung menggema di seluruh area lomba. Para peserta yang belum berhasil meraih juara tetap terlihat antusias karena merasa bangga dapat turut melestarikan kuliner khas Kalimantan Selatan.
Demo Memasak Soto Banjar oleh Chef Ternama
Setelah lomba selesai, acara berlanjut dengan sesi yang paling ditunggu pengunjung, yaitu demonstrasi memasak Soto Banjar oleh chef ternama nasional, Chef Dimas Prasetyo.
Di atas panggung utama, Chef Dimas memperlihatkan langkah demi langkah proses memasak Soto Banjar yang autentik. Mulai dari merebus ayam kampung, meracik rempah-rempah, hingga menghasilkan kuah yang gurih dan harum.
Ratusan penonton tampak memenuhi area demonstrasi. Banyak yang mencatat resep, mengambil foto, dan mengajukan berbagai pertanyaan seputar teknik memasak Soto Banjar yang benar.
Chef Dimas menjelaskan bahwa kunci utama Soto Banjar terletak pada kesabaran saat mengolah kaldu serta keseimbangan penggunaan rempah-rempah.
Menurutnya, tidak ada rempah yang boleh terlalu mendominasi karena keindahan Soto Banjar justru terletak pada harmonisasi seluruh bahan yang digunakan.
Merayakan Identitas Kuliner Kalimantan Selatan
Lomba Lomba Memasak Soto Banjar bukan hanya sekadar perlombaan memasak. Acara ini menjadi ruang pertemuan antara tradisi, sejarah, budaya, dan kreativitas kuliner masyarakat Indonesia.
Melalui kegiatan seperti ini, generasi muda dapat mengenal lebih dekat warisan kuliner daerah yang telah menjadi identitas Kalimantan Selatan selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Soto Banjar bukan sekadar hidangan berkuah, melainkan simbol keberagaman budaya yang berpadu secara harmonis dalam satu mangkuk.
Ketika matahari mulai terbenam dan aroma rempah perlahan menghilang dari area lomba, satu hal yang tersisa adalah kebanggaan bersama terhadap Soto Banjar, kuliner khas Kalimantan Selatan yang terus memikat lidah dan hati masyarakat, baik di Indonesia maupun di berbagai penjuru dunia.