Kelezatan Kue Banjar, yang “Tenggelam” dalam Manisnya Gula Merah
Di antara puluhan jenis wadai atau kue tradisional Banjar, ada satu nama yang sering membuat orang penasaran sejak pertama kali mendengarnya: Wadai Bingka Berandam.
Bagi mereka yang sudah mengenal Wadai Bingka, mungkin muncul pertanyaan sederhana: mengapa ada kata berandam di belakangnya? Apakah ini jenis bingka yang berbeda? Atau hanya variasi penyajian biasa?
Jawabannya justru menjadi salah satu hal yang membuat kue ini begitu unik. Jika Bingka tradisional dikenal sebagai kue lembut yang dipanggang hingga berwarna keemasan, maka Bingka Berandam menghadirkan pengalaman yang sama sekali berbeda.
Setelah kue matang, bingka tidak langsung disajikan begitu saja, melainkan direndam dalam kuah gula merah yang harum dan kaya rempah.
Dari proses perendaman inilah lahir cita rasa khas yang membuat Bingka Berandam memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Banjar.
Apa Itu Wadai dalam Budaya Banjar?
Dalam budaya Banjar, istilah wadai berarti kue atau jajanan tradisional. Namun maknanya jauh lebih luas daripada sekadar camilan.
Wadai merupakan bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat Kalimantan Selatan. Kue-kue tradisional selalu hadir dalam acara keluarga, pernikahan, selamatan, syukuran, hingga berbagai perayaan keagamaan.
Masyarakat Banjar bahkan memiliki tradisi terkenal yang dikenal sebagai 41 macam wadai, yaitu penyajian puluhan jenis kue tradisional dalam acara-acara istimewa sebagai simbol penghormatan kepada tamu dan bentuk pelestarian budaya.
Bingka Berandam termasuk salah satu anggota dari kelompok wadai legendaris tersebut. Meski tidak seterkenal Bingka Kentang atau Amparan Tatak di tingkat nasional, banyak masyarakat Banjar justru menganggapnya sebagai salah satu wadai yang paling istimewa.
Mengapa Disebut “Berandam”?
Dalam bahasa Banjar dan Melayu lama, kata berandam memiliki arti kurang lebih "berendam" atau "direndam."
Nama tersebut secara langsung menggambarkan cara penyajian kue ini.
Berbeda dari Bingka biasa yang disajikan dalam keadaan kering setelah dipanggang, Bingka Berandam terlebih dahulu dipotong-potong lalu direndam dalam kuah gula merah yang telah dimasak bersama rempah-rempah pilihan.
Proses ini membuat kue menyerap sebagian cairan manis tersebut sehingga menghasilkan tekstur yang lebih lembut dan rasa yang jauh lebih kaya.
Ketika digigit, sensasi pertama yang muncul bukan hanya kelembutan khas bingka, tetapi juga ledakan rasa manis dari kuah gula merah yang meresap ke dalam kue.
Inilah yang membuat Bingka Berandam terasa sangat berbeda dibandingkan varian Bingka lainnya.
Warisan Kuliner yang Bertahan dalam Tradisi Banjar
Seperti banyak wadai tradisional Banjar lainnya, Bingka Berandam merupakan bagian dari warisan kuliner yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Masyarakat Banjar dikenal memiliki budaya kuliner yang sangat kaya, terutama dalam hal pembuatan kue tradisional. Berbagai resep diwariskan secara lisan maupun melalui praktik langsung di dapur keluarga.
Bingka Berandam menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat Banjar mampu mengembangkan variasi baru dari resep yang sudah ada.
Jika Bingka biasa mengandalkan tekstur lembut dan rasa gurih-manis dari santan dan telur, maka Bingka Berandam membawa konsep tersebut ke tingkat berikutnya dengan menambahkan kuah gula merah yang melimpah.
Hasilnya adalah kue yang lebih kaya rasa dan memiliki karakter tersendiri.
Kesederhanaan Bahan yang Melahirkan Kelezatan
Salah satu hal menarik dari Bingka Berandam adalah bahan-bahannya yang relatif sederhana.
Adonan kue dibuat dari tepung terigu, gula pasir, telur, garam, dan vanili. Tidak ada bahan yang sulit ditemukan atau teknik yang terlalu rumit.
Namun seperti banyak resep tradisional lainnya, kelezatan Bingka Berandam tidak hanya bergantung pada bahan, tetapi juga pada keseimbangan dan proses pembuatannya.
Kunci utama justru terletak pada kuah rendamannya.
Kuah tersebut dibuat dari campuran air, gula merah, daun pandan, dan cengkeh. Saat direbus bersama, bahan-bahan ini menghasilkan aroma yang sangat khas.
Gula merah memberikan rasa manis yang dalam dan kaya. Daun pandan menghadirkan aroma harum yang menenangkan. Sementara cengkeh menambahkan sentuhan rempah yang membuat rasa kuah menjadi lebih kompleks.
Ketika kuah tersebut meresap ke dalam bingka yang lembut, terciptalah perpaduan rasa yang sulit dilupakan.
Sensasi Legit yang Membuat Ketagihan
Jika ada satu kata yang paling sering digunakan masyarakat Banjar untuk menggambarkan Bingka Berandam, kata itu adalah legit.
Namun legit di sini bukan sekadar manis biasa.
Rasa manis Bingka Berandam memiliki lapisan yang beragam. Ada manis lembut dari adonan bingka, kemudian disusul manis yang lebih dalam dari gula merah. Aroma pandan dan cengkeh membuat rasa tersebut terasa lebih hidup dan tidak membosankan.
Tekstur kue yang lembut juga berperan besar dalam pengalaman menikmatinya. Karena telah direndam, bagian dalam kue menjadi lebih lembap dan kaya rasa dibandingkan Bingka biasa.
Banyak orang mengaku sulit berhenti setelah memakan satu potong. Rasa manisnya memang cukup kuat, tetapi justru itulah yang menjadi daya tarik utama Bingka Berandam.
Primadona Saat Ramadan
Jika ada satu waktu ketika Bingka Berandam paling mudah ditemukan, maka jawabannya adalah bulan Ramadan.
Di berbagai pasar wadai Kalimantan Selatan, kue ini menjadi salah satu produk yang paling dicari menjelang waktu berbuka puasa.
Masyarakat Banjar sangat menyukai makanan manis sebagai takjil, dan Bingka Berandam memenuhi semua kriteria yang diharapkan dari menu berbuka: lembut, mengenyangkan, dan kaya rasa.
Setelah seharian berpuasa, manisnya gula merah membantu mengembalikan energi dengan cepat. Teksturnya yang lembut juga membuatnya nyaman disantap sebelum menikmati hidangan utama.
Tidak mengherankan jika banyak keluarga Banjar merasa Ramadan belum lengkap tanpa kehadiran Bingka Berandam di meja berbuka.
Kue Musiman yang Selalu Dirindukan
Berbeda dengan beberapa wadai lain yang dapat ditemukan sepanjang tahun, Bingka Berandam cenderung lebih mudah dijumpai selama bulan Ramadan.
Di luar bulan tersebut, kue ini biasanya hanya tersedia melalui pesanan khusus atau di toko-toko tertentu yang masih mempertahankan produksi tradisional.
Kelangkaan inilah yang justru membuat Bingka Berandam semakin dirindukan. Banyak orang menantikan Ramadan bukan hanya karena suasana ibadahnya, tetapi juga karena kesempatan untuk kembali menikmati berbagai wadai tradisional yang jarang muncul di hari-hari biasa.
Bingka Berandam menjadi salah satu simbol kerinduan tersebut.
Lebih dari Sekadar Kue Manis
Pada akhirnya, Wadai Bingka Berandam bukan hanya tentang tepung, telur, atau gula merah.
Ia adalah bagian dari identitas budaya Banjar yang hidup melalui tradisi kuliner. Di dalam setiap potongnya terdapat cerita tentang keluarga yang berkumpul menjelang berbuka puasa, tentang pasar wadai yang ramai saat Ramadan, dan tentang resep turun-temurun yang terus dijaga dengan penuh kebanggaan.
Kue ini juga menunjukkan kreativitas masyarakat Banjar dalam mengembangkan kuliner tradisional. Dari Bingka biasa lahirlah Bingka Berandam, sebuah variasi yang memiliki karakter unik dan dicintai oleh banyak generasi.
Dan selama aroma gula merah, pandan, dan cengkeh masih mengepul dari dapur-dapur Kalimantan Selatan, Bingka Berandam akan terus menjadi salah satu permata kuliner Banjar yang manis, hangat, dan selalu dirindukan.