Banjar Media - Connecting Banjar to The World Banjar Media - Connecting Banjar to The World

Menjembatani Banjar dengan Dunia

Press ESC to close

Ronde Banjar, Jejak Akulturasi Kuliner Tionghoa di Kalimantan Selatan

Tradisi 41 Wadai Banjar yang Telah Ada Sejak Masa Kerajaan Hindu

Jauh sebelum Ronde Banjar dikenal sebagai salah satu kue tradisional Kalimantan Selatan, tradisi 41 Wadai Banjar telah lebih dahulu hidup dalam kehidupan masyarakat Banjar. 

Tradisi ini dipercaya berasal dari masa Kerajaan Negara Dipa sekitar abad ke-13 hingga ke-14 yang berpusat di wilayah Banua Hujung Tanah, kawasan yang kini menjadi bagian dari Kalimantan Selatan.

Pada masa tersebut, aneka wadai atau kue tradisional digunakan sebagai bagian dari ritual dan persembahan yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat setempat. 

Kue-kue tersebut disajikan sebagai sesajen yang memiliki makna simbolis untuk menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan alam dan dunia spiritual.

Resep berbagai wadai diwariskan secara turun-temurun selama berabad-abad dan terus bertahan hingga masa Kesultanan Banjar. Keberlanjutan tradisi ini menjadikan 41 Wadai sebagai salah satu warisan budaya kuliner tertua yang masih dikenal masyarakat Banjar hingga sekarang.

Transformasi Tradisi Wadai Setelah Masuknya Islam

Ketika Islam berkembang di Kesultanan Banjar pada abad ke-16, berbagai tradisi lama tidak serta-merta hilang, melainkan mengalami penyesuaian makna. Tradisi 41 Wadai yang sebelumnya berkaitan dengan ritual kepercayaan lama kemudian bertransformasi menjadi bagian dari tradisi Islam Banjar.

Aneka wadai mulai disajikan dalam berbagai kegiatan keagamaan dan adat, seperti Baayun Maulid, Batamat Al-Qur'an, Badudus, serta berbagai prosesi pernikahan adat Banjar. 

Dalam konteks baru ini, wadai tidak lagi dipahami sebagai sesajen, melainkan sebagai simbol rasa syukur, doa keselamatan, kebersamaan, dan penghormatan kepada tamu.

Transformasi tersebut menunjukkan kemampuan masyarakat Banjar dalam merawat warisan budaya sekaligus menyesuaikannya dengan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat.

Kedatangan Pedagang Tionghoa dan Pengaruhnya terhadap Kuliner Banjar

Pada periode yang hampir bersamaan, jalur perdagangan maritim Nusantara semakin ramai dilalui para pedagang dari berbagai wilayah Asia, termasuk Tiongkok. Melalui aktivitas perdagangan inilah berbagai unsur budaya Tionghoa mulai masuk ke Kalimantan.

Selain membawa komoditas dagang, para pedagang Tionghoa juga memperkenalkan berbagai tradisi kuliner yang kemudian berinteraksi dengan budaya lokal. Salah satu makanan yang diyakini turut masuk melalui proses tersebut adalah Tangyuan (汤圆), hidangan khas Tionghoa berupa bola-bola tepung ketan yang biasanya disajikan dalam kuah hangat.

Seiring berjalannya waktu, Tangyuan tidak lagi hadir dalam bentuk aslinya. 

Masyarakat Banjar mengadaptasi makanan tersebut menggunakan bahan-bahan dan cita rasa yang lebih dekat dengan tradisi kuliner setempat. Dari proses inilah kemudian lahir Ronde Banjar yang dikenal hingga sekarang.

Dari Tangyuan Menjadi Ronde Banjar

Ronde Banjar merupakan salah satu contoh paling menarik dari proses akulturasi budaya Tionghoa dan Banjar. Bentuk dasar Tangyuan tetap dipertahankan, yaitu bola-bola tepung ketan yang dibuat bulat dengan isian kacang atau tanpa isi.

Nama "ronde" sendiri diyakini berasal dari kata Belanda rondje yang berarti bulat. Istilah tersebut kemudian digunakan secara luas di Nusantara untuk menyebut makanan berbentuk bulat yang berasal dari tradisi Tangyuan.

Meski bentuknya serupa dengan makanan asal Tiongkok, masyarakat Banjar memberikan sentuhan khas pada penyajiannya. Jika Tangyuan umumnya disajikan dalam kuah jahe yang hangat, Ronde Banjar berkembang dengan kuah santan dan gula merah yang menghasilkan cita rasa lebih gurih dan lembut.

Perubahan inilah yang membuat Ronde Banjar memiliki identitas tersendiri sebagai bagian dari kuliner tradisional Kalimantan Selatan.

Ronde sebagai Salah Satu dari 41 Wadai Banjar

Dalam susunan tradisional 41 Wadai Banjar, ronde menempati posisi sebagai salah satu kue yang mencerminkan perjalanan panjang interaksi budaya di Kalimantan Selatan.

Keberadaan ronde dalam kelompok wadai tradisional menunjukkan bahwa budaya Banjar tidak berkembang secara tertutup. Sebaliknya, masyarakat Banjar mampu menerima pengaruh dari luar, mengolahnya sesuai selera lokal, lalu menjadikannya bagian dari identitas budaya mereka sendiri.

Selain ronde, beberapa kue lain dalam tradisi 41 Wadai juga menunjukkan jejak pengaruh budaya Tionghoa, seperti Cucur dan Ipau. 

Kehadiran berbagai kue tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antara masyarakat Banjar dan komunitas perantau Tionghoa telah berlangsung cukup lama dan menghasilkan pertukaran budaya yang harmonis.

Apakah Ronde Banjar Sama dengan Wedang Ronde Jawa?

Pertanyaan ini sering muncul karena keduanya memiliki nama dan bentuk yang hampir sama. Secara historis, jawabannya adalah ya. Ronde Banjar dan Wedang Ronde Jawa berasal dari akar budaya yang sama, yaitu Tangyuan dari Tiongkok.

Keduanya menggunakan bola-bola tepung ketan berbentuk bulat yang dapat berisi kacang tanah dan disajikan dalam keadaan hangat. Keduanya juga berkembang melalui proses akulturasi budaya Tionghoa dengan masyarakat lokal di Nusantara.

Perbedaan utama terletak pada kuah yang digunakan. Wedang Ronde Jawa mempertahankan karakter kuah jahe dan gula merah yang menghasilkan rasa hangat serta sedikit pedas. 

Sementara itu, Ronde Banjar menggunakan kuah santan dan gula merah yang menciptakan rasa gurih-manis yang lebih sesuai dengan karakter kuliner Banjar dan Melayu.

Karena itu, Ronde Banjar dan Wedang Ronde Jawa dapat dianggap sebagai dua varian daerah dari tradisi kuliner yang sama. Keduanya memiliki leluhur yang sama, tetapi berkembang mengikuti selera dan budaya masyarakat yang berbeda.

Simbol Akulturasi Budaya yang Bertahan Hingga Kini

Ronde Banjar bukan sekadar makanan tradisional yang disajikan dalam berbagai acara adat. Di balik semangkuk ronde hangat tersimpan kisah panjang perjalanan budaya yang melibatkan tradisi Hindu kuno, perkembangan Islam di Kesultanan Banjar, perdagangan maritim Nusantara, hingga pengaruh kuliner Tionghoa.

Perjalanan tersebut menjadikan Ronde Banjar sebagai salah satu simbol nyata akulturasi budaya di Kalimantan Selatan. Dari Tangyuan di Tiongkok, kemudian bertransformasi menjadi Ronde Banjar yang masuk ke dalam tradisi 41 Wadai, makanan ini menjadi bukti bahwa pertemuan berbagai budaya dapat melahirkan warisan kuliner yang unik dan tetap bertahan selama berabad-abad.

Hingga kini, Ronde Banjar tidak hanya dikenang sebagai salah satu kue dalam 41 Wadai Banjar, tetapi juga sebagai saksi sejarah hubungan harmonis antara budaya Banjar dan Tionghoa yang telah berlangsung sejak masa perdagangan kuno di Nusantara.

 

Related Posts

Mengenal Kue Ilat Sapi, Kuliner Tradisional Khas Kalimantan
Wadai Balungan Hayam
Mengenal Cingkarok Batu
Kelalapon (Kalalapon), Kue Tradisional Banjar dari Martapura
Banjar Media Editorial Team

Research and Analyst Team

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *

Pengalaman Anda di situs ini akan ditingkatkan dengan mengizinkan cookie.