Banjar Media - Connecting Banjar to The World Banjar Media - Connecting Banjar to The World

Menjembatani Banjar dengan Dunia

Press ESC to close

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari

Ulama Besar Banjar, yang Membentuk Peradaban Islam Nusantara

Diantara nama-nama besar yang pernah lahir di Kalimantan Selatan, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari menempati posisi yang sangat istimewa. Sosok yang dikenal dengan gelar Datu Kalampayan ini bukan hanya seorang ulama besar dari Tanah Banjar, tetapi juga tokoh yang memiliki pengaruh luas terhadap perkembangan Islam di Nusantara dan dunia Melayu.

Melalui pemikiran, karya tulis, pendidikan, serta reformasi hukum Islam yang dilakukannya, Syekh Arsyad berhasil membangun fondasi keilmuan yang masih dirasakan manfaatnya hingga saat ini. Pengaruhnya tidak hanya terbatas pada Kesultanan Banjar, tetapi juga menjangkau berbagai wilayah di Asia Tenggara.

Lahir di Lok Gabang, Tumbuh Menjadi Ulama Besar

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari lahir dengan nama Sayyid Ja'far Al-Adarus pada 15 Shafar 1122 Hijriah atau bertepatan dengan 17 Maret 1710 di Kampung Lok Gabang, wilayah yang kini termasuk Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Beliau merupakan putra dari pasangan Abdullah dan Siti Aminah yang dikenal sebagai keluarga muslim yang taat. Sejak kecil, Arsyad memperoleh pendidikan agama langsung dari kedua orang tuanya. Di lingkungan keluarga inilah ia mulai mempelajari dasar-dasar tauhid dan membaca Al-Qur'an.

Selain dikenal sebagai ulama besar, Syekh Arsyad juga memiliki garis keturunan yang bersambung kepada Rasulullah SAW melalui jalur Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidatina Fatimah. Nasab tersebut menjadikan beliau termasuk dalam keluarga besar para sayyid yang memiliki tradisi keilmuan Islam yang kuat.

Namun yang membuat namanya dikenang bukanlah semata-mata karena keturunan, melainkan karena keluasan ilmu dan dedikasinya dalam membangun masyarakat Islam.

Menjadi Anak Asuh Sultan Banjar

Kisah perjalanan Syekh Arsyad berubah ketika usianya masih sekitar enam tahun. Pada suatu kesempatan, Sultan Banjar ke-10, Sultan Tahlillah, berkunjung ke Kampung Lok Gabang dan melihat kecerdasan luar biasa yang dimiliki anak kecil bernama Arsyad.

Kecerdasan tersebut menarik perhatian sang sultan. Setelah berbicara dengan keluarga Arsyad, Sultan Tahlillah meminta izin untuk membawa anak itu ke Keraton Martapura agar memperoleh pendidikan yang lebih baik.

Sejak saat itu Arsyad tumbuh sebagai anak asuh kerajaan di lingkungan Kesultanan Banjar. Kehidupan di istana memberinya akses terhadap pendidikan, lingkungan intelektual, serta pembinaan yang kelak menjadi bekal penting dalam perjalanan hidupnya.

Hubungan antara Syekh Arsyad dan Kesultanan Banjar yang terjalin sejak masa kecil inilah yang nantinya berkembang menjadi hubungan erat antara ulama dan negara selama beberapa generasi pemerintahan Banjar.

Menuntut Ilmu Puluhan Tahun di Makkah dan Madinah

Melihat kebutuhan Kesultanan Banjar akan ulama yang memiliki otoritas keilmuan tinggi, Sultan Tahmidullah kemudian mengambil keputusan penting. Pada tahun 1740, ketika berusia sekitar 30 tahun, Arsyad diberangkatkan ke Tanah Suci untuk memperdalam ilmu agama.

Perjalanan tersebut bukan sekadar perjalanan belajar biasa. Ia menjadi salah satu investasi intelektual terbesar yang pernah dilakukan Kesultanan Banjar.

Selama kurang lebih tiga dekade, bahkan menurut sebagian sumber mencapai 33 tahun, Syekh Arsyad menuntut ilmu di Makkah dan Madinah. Masa yang sangat panjang itu dihabiskan untuk berguru kepada para ulama besar Haramain dan memperdalam berbagai cabang ilmu Islam.

Di sana beliau mempelajari fikih, tafsir, hadis, tauhid, tasawuf, ushul fikih, ilmu falak, bahasa Arab, dan berbagai disiplin lainnya. Secara keseluruhan, ia dikenal menguasai lebih dari 32 bidang ilmu keislaman.

Lebih dari itu, beliau memperoleh sanad keilmuan yang tersambung hingga Rasulullah SAW melalui para guru yang membimbingnya. Otoritas ilmiah inilah yang kemudian menjadikan Syekh Arsyad sebagai salah satu ulama paling dihormati di dunia Melayu.

Menariknya, biaya pendidikan beliau tidak berhenti pada satu masa pemerintahan saja. Beasiswa yang diberikan Kesultanan Banjar terus dilanjutkan oleh beberapa sultan berikutnya, menunjukkan betapa besar perhatian kerajaan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan Islam.

Kembali ke Banjar dan Diangkat Menjadi Mufti Kesultanan

Sekitar tahun 1772 atau 1773, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari kembali ke Tanah Banjar setelah puluhan tahun menimba ilmu di Haramain.

Kedatangannya disambut dengan penuh penghormatan. Pada masa pemerintahan Sultan Tahmidullah, beliau kemudian diangkat sebagai Mufti Kesultanan Banjar, jabatan tertinggi dalam bidang hukum dan keagamaan.

Pengangkatan tersebut bukan sekadar bentuk penghargaan atas ilmunya, melainkan langkah strategis untuk memperkuat sistem pemerintahan berbasis syariat Islam di Kesultanan Banjar.

Selain menjadi mufti, Syekh Arsyad juga dipercaya sebagai penasehat kerajaan dalam berbagai persoalan hukum, sosial, dan politik. Pengaruhnya sangat besar sehingga banyak kebijakan kerajaan lahir dari pemikiran dan pandangan keagamaannya.

Hubungan erat itu semakin kuat ketika Sultan Tahmidullah menikahkan Syekh Arsyad dengan Ratu Aminah, keponakan sultan. Sejak saat itu, hubungan antara ulama besar ini dan keluarga kerajaan tidak hanya bersifat intelektual, tetapi juga kekeluargaan.

Membangun Mahkamah Syariah Pertama di Kesultanan Banjar

Sebagai mufti, Syekh Arsyad tidak hanya mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat. Ia juga melakukan reformasi kelembagaan yang sangat penting.

Salah satu langkah terbesarnya adalah membangun sistem Mahkamah Syariah yang berfungsi sebagai pengadilan agama resmi Kesultanan Banjar.

Melalui lembaga tersebut, jabatan mufti dan qadhi ditata secara lebih sistematis sehingga penerapan hukum Islam dapat berjalan lebih teratur dalam kehidupan masyarakat maupun pemerintahan.

Langkah ini menjadi tonggak penting dalam sejarah hukum Islam di Kalimantan Selatan dan menjadikan Kesultanan Banjar sebagai salah satu kerajaan Islam yang memiliki struktur hukum yang lebih terorganisasi.

Mendirikan Pesantren Dalam Pagar

Kesadaran bahwa keberlangsungan ilmu harus ditopang oleh pendidikan membuat Syekh Arsyad mendirikan pusat pembelajaran Islam yang kelak menjadi salah satu lembaga pendidikan paling berpengaruh di Kalimantan.

Dengan dukungan Sultan Tahmidullah yang memberikan sebidang tanah sekitar empat kilometer dari Martapura, beliau mendirikan Pondok Pesantren Dalam Pagar bersama Syekh Abdul Wahab Albugisi.

Pesantren ini bukan hanya tempat belajar agama, melainkan pusat kaderisasi ulama, hakim, qadhi, dan pemimpin masyarakat. Dari lembaga inilah lahir generasi-generasi penerus yang menyebarkan ilmu Islam ke berbagai daerah di Kalimantan dan Nusantara.

Hingga kini, Dalam Pagar masih dikenang sebagai salah satu pusat perkembangan intelektual Islam paling penting dalam sejarah Banjar.

Sabilal Muhtadin, Karya Agung yang Mendunia

Di antara sekian banyak warisan Syekh Arsyad al-Banjari, tidak ada yang lebih terkenal daripada kitab Sabilal Muhtadin Lit Tafaqquh fi Amriddin.

Kitab ini ditulis atas permintaan Sultan Tahmidullah sekitar tahun 1779 dan selesai beberapa tahun kemudian. Isinya membahas fikih Mazhab Syafi'i secara sistematis dan disusun dalam bahasa Melayu agar lebih mudah dipahami masyarakat.

Keistimewaan kitab ini terletak pada kemampuannya menjelaskan hukum Islam dengan mempertimbangkan kondisi sosial dan budaya masyarakat lokal. Syekh Arsyad tidak sekadar menerjemahkan pendapat ulama Timur Tengah, tetapi juga menyesuaikannya dengan realitas kehidupan masyarakat Banjar dan Nusantara.

Karena kualitasnya yang tinggi, Sabilal Muhtadin kemudian menjadi rujukan utama fikih Syafi'i di berbagai wilayah Asia Tenggara. Bahkan kitab ini pernah digunakan sebagai referensi akademik bagi mahasiswa yang mempelajari Islam Asia Tenggara di Mesir.

Selain Sabilal Muhtadin, beliau juga menulis sejumlah karya penting lainnya seperti Tuhfaturraghibin, Ushuluddin, Nuqtatul Ajlan, Kitab Faraidh, dan berbagai karya keilmuan lainnya yang menunjukkan keluasan wawasan beliau.

Pengaruh terhadap Hukum dan Politik Kesultanan Banjar

Peran Syekh Arsyad tidak berhenti pada pendidikan dan dakwah. Pemikirannya juga memberi pengaruh besar terhadap arah politik dan hukum Kesultanan Banjar.

Gagasan-gagasannya menjadi salah satu fondasi lahirnya berbagai regulasi kerajaan yang berlandaskan syariat Islam. Bahkan banyak peneliti melihat keterkaitan antara pemikiran Syekh Arsyad dengan lahirnya Undang-Undang Sultan Adam yang kemudian menjadi salah satu produk hukum paling terkenal dalam sejarah Banjar.

Melalui pendekatan yang menggabungkan prinsip syariat dengan kondisi sosial masyarakat lokal, beliau berhasil membentuk corak keberislaman Banjar yang kuat secara hukum namun tetap bijaksana terhadap tradisi dan budaya setempat.

Karakter inilah yang kemudian menjadi ciri khas Islam Banjar hingga sekarang.

Ulama yang Menjadi Guru Para Sultan

Keistimewaan lain dari Syekh Arsyad adalah kedudukannya yang sangat dihormati oleh para penguasa Banjar. Hubungan beliau dengan Kesultanan Banjar berlangsung lintas generasi, mulai dari masa Sultan Tahlillah hingga Sultan Sulaiman Rahmatullah.

Para sultan bukan hanya menjadi pelindung dan pendukung dakwahnya, tetapi juga murid yang belajar langsung kepadanya. Sultan Sulaiman Rahmatullah, misalnya, dikenal sebagai salah satu penguasa yang berguru kepada Syekh Arsyad.

Kedekatan tersebut bahkan melahirkan sebuah wasiat terkenal dari Sultan Tahmidullah yang berpesan kepada keturunannya agar selalu menghormati Syekh Arsyad dan keluarganya karena jasa besar yang telah diberikan kepada kerajaan dan masyarakat Banjar.

Wafat dan Warisan yang Tetap Hidup

Setelah lebih dari satu abad menjalani kehidupan yang dipenuhi aktivitas dakwah, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari wafat pada 3 Oktober 1812.

Beliau dimakamkan di Desa Kelampayan, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar. Hingga hari ini makam tersebut menjadi salah satu tujuan ziarah religi terpenting di Kalimantan Selatan.

Meski telah wafat lebih dari dua abad lalu, pengaruh Syekh Arsyad tidak pernah benar-benar hilang. Karya-karyanya masih dipelajari, ajarannya masih diajarkan di berbagai pesantren, dan namanya terus dikenang sebagai simbol keilmuan Islam Banjar.

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Kebangkitan Islam Nusantara

Dalam sejarah Islam Indonesia, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari bukan sekadar ulama lokal dari Kalimantan Selatan. Ia adalah seorang pembaharu yang berhasil membangun jembatan antara ilmu keislaman klasik dengan kebutuhan masyarakat Nusantara.

Melalui pendidikan, reformasi hukum, pembentukan institusi keagamaan, serta karya-karya ilmiahnya, beliau membantu membentuk wajah Islam Banjar dan dunia Melayu selama berabad-abad. Tidak mengherankan jika banyak kalangan menyebutnya sebagai Arsitek Kebangkitan Islam Nusantara.

Dari Lok Gabang hingga Haramain, dari Keraton Martapura hingga pesantren-pesantren yang tersebar di seluruh Kalimantan, jejak Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari terus hidup sebagai warisan ilmu yang tak lekang oleh waktu.

 

Related Posts

Sejarah Kota Martapura
Sejarah Kota Banjarmasin
Sejarah Pangeran Hidayatullah
Kerajaan Negara Dipa dan Awal Mula Berdirinya
Banjar Media Editorial Team

Research and Analyst Team

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *

Pengalaman Anda di situs ini akan ditingkatkan dengan mengizinkan cookie.