Dari Bandar Banjarmasih hingga Menjadi Kota Seribu Sungai
Banjarmasin merupakan salah satu kota tertua dan terpenting di Pulau Kalimantan. Sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan, kota ini tidak hanya dikenal sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan, tetapi juga sebagai kota yang lahir dan berkembang dari peradaban sungai.
Sejarahnya membentang lebih dari lima abad, mulai dari berdirinya Kesultanan Banjar pada abad ke-16 hingga menjadi kota modern yang tetap mempertahankan identitasnya sebagai Kota Seribu Sungai.
Di setiap sudut Banjarmasin, sungai bukan sekadar bentang alam. Sungai adalah bagian dari sejarah, budaya, ekonomi, bahkan cara hidup masyarakatnya.
Karena itulah memahami sejarah Banjarmasin berarti memahami bagaimana sungai membentuk sebuah kota yang menjadi gerbang utama Kalimantan Selatan selama berabad-abad.
Awal Mula Banjarmasin dan Asal Nama Banjarmasih
Sejarah Banjarmasin tidak dapat dipisahkan dari lahirnya Kerajaan Banjar. Pada awal abad ke-16, wilayah yang kini menjadi Banjarmasin merupakan kawasan perdagangan penting yang berada di sekitar muara sungai besar yang terhubung dengan Laut Jawa.
Nama awal kota ini adalah Banjarmasih. Nama tersebut dipercaya berasal dari gabungan kata bandar yang berarti pelabuhan atau pusat perdagangan dan nama Patih Masih, seorang tokoh berpengaruh yang memiliki peran penting dalam perkembangan kawasan tersebut.
Seiring waktu, penyebutan Banjarmasih berubah menjadi Banjarmasin sebagaimana dikenal saat ini.
Hari jadi Kota Banjarmasin ditetapkan pada 24 September 1526, bertepatan dengan kemenangan Pangeran Samudera atas pamannya, Pangeran Tumenggung.
Setelah menerima regalia atau simbol kekuasaan kerajaan, Pangeran Samudera kemudian dinobatkan sebagai Sultan Suriansyah, sultan pertama Kesultanan Banjar.
Peristiwa tersebut menjadi tonggak berdirinya Kerajaan Banjar sekaligus awal sejarah Banjarmasin sebagai pusat pemerintahan kerajaan.
Banjarmasin sebagai Ibu Kota Kesultanan Banjar
Pada masa awal Kesultanan Banjar, pusat pemerintahan berada di kawasan Kuin, yang kini termasuk wilayah Banjarmasin Utara. Dari kawasan inilah kerajaan berkembang menjadi salah satu kekuatan maritim penting di Kalimantan.
Letaknya yang strategis di jalur perdagangan membuat Banjarmasin tumbuh menjadi bandar niaga yang ramai.
Kapal-kapal dari Jawa, Sulawesi, Sumatra, Malaka hingga berbagai wilayah Asia Tenggara singgah untuk berdagang. Komoditas utama yang diperdagangkan meliputi lada, rotan, kayu, damar, lilin hutan, serta berbagai hasil alam dari pedalaman Kalimantan.
Pada masa itu sungai berfungsi sebagai jalan raya utama. Hampir seluruh aktivitas masyarakat berlangsung di atas air. Perahu dan jukung menjadi sarana transportasi utama yang menghubungkan kampung-kampung, pasar, pelabuhan, hingga pusat pemerintahan.
Karena itulah wajah Banjarmasin pada masa kerajaan sangat berbeda dengan kota-kota lain di Nusantara. Kehidupan masyarakat benar-benar berpusat pada sungai.
Peradaban Sungai yang Membentuk Identitas Kota
Jika ada satu unsur yang paling menentukan perkembangan Banjarmasin, maka unsur tersebut adalah sungai.
Kota ini berada di wilayah delta yang dipengaruhi dua sungai besar, yaitu Sungai Barito dan Sungai Martapura. Dari kedua sungai utama tersebut bercabang ratusan anak sungai, kanal, dan saluran air yang membentuk jaringan perairan yang sangat luas.
Julukan Kota Seribu Sungai lahir dari kondisi geografis tersebut. Meski jumlah sungainya tidak benar-benar mencapai seribu, masyarakat Banjar menggunakan istilah itu sebagai kiasan untuk menggambarkan betapa banyaknya aliran sungai yang membelah wilayah kota.
Data modern menunjukkan bahwa Banjarmasin memiliki lebih dari seratus sungai aktif. Bahkan identifikasi terbaru menemukan sekitar 172 sungai dan saluran air yang masih ada di wilayah kota.
Bagi masyarakat Banjar, sungai bukan hanya jalur transportasi. Sungai adalah pusat ekonomi, ruang interaksi sosial, sumber kehidupan, dan bagian dari identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.
Pasar terapung yang terkenal hingga mancanegara merupakan salah satu contoh bagaimana masyarakat memanfaatkan sungai sebagai ruang perdagangan. Tradisi tersebut telah berlangsung selama ratusan tahun dan masih dapat ditemukan hingga sekarang.
Dari Kota di Sungai Menjadi Kota Tepi Sungai
Selama berabad-abad, Banjarmasin dikenal sebagai kota yang berdiri di atas air. Rumah-rumah rakit mengapung di sungai, sementara rumah panggung dibangun di tepian sungai dengan orientasi menghadap ke aliran air.
Kondisi mulai berubah ketika pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan pembangunan infrastruktur darat pada awal abad ke-20.
Sebelumnya, sungai merupakan satu-satunya sarana penghubung utama antarkampung. Namun seiring pembangunan jalan, jembatan, dan kawasan permukiman baru, masyarakat mulai beralih menggunakan transportasi darat.
Transformasi tersebut mengubah pola tata kota secara signifikan. Banjarmasin perlahan berkembang dari kota di sungai menjadi kota tepi sungai.
Meskipun demikian, hubungan masyarakat dengan sungai tidak pernah benar-benar terputus.
Banjarmasin pada Masa Kolonial Belanda
Pengaruh kolonial Belanda mulai semakin terasa pada abad ke-19 dan mencapai puncaknya pada awal abad ke-20.
Pada tanggal 1 Juli 1919, Banjarmasin resmi memperoleh status sebagai Gemeente atau kotamadya. Status ini menjadikan Banjarmasin sebagai salah satu kota modern yang dikelola langsung oleh pemerintah kolonial.
Pada masa inilah pembangunan kota dilakukan secara lebih terencana. Jalan-jalan baru dibangun untuk menghubungkan berbagai kampung yang sebelumnya hanya dapat dicapai melalui sungai.
Tahun 1937 menjadi salah satu fase penting ketika insinyur Belanda melakukan pemetaan kota secara menyeluruh untuk mendukung pembangunan infrastruktur modern.
Berbagai fasilitas publik mulai bermunculan, termasuk rumah sakit, kawasan administrasi, pabrik es, galangan kapal, dan fasilitas perdagangan.
Setahun kemudian, pada 1938, posisi Banjarmasin semakin penting ketika ditetapkan sebagai ibu kota Gouvernement Borneo, sebuah wilayah administrasi besar yang mencakup sebagian besar Kalimantan pada masa kolonial.
Periode ini menandai transformasi besar dari kota tradisional berbasis sungai menjadi kota modern yang mulai mengandalkan jaringan transportasi darat.
Masa Pendudukan Jepang
Ketika Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942, kondisi Banjarmasin tidak mengalami perubahan besar dalam pembangunan fisik.
Sebelum pasukan Jepang masuk, banyak fasilitas penting telah dihancurkan oleh Belanda melalui kebijakan bumi hangus untuk mencegah penggunaannya oleh pihak Jepang.
Akibatnya, periode pendudukan Jepang lebih banyak diwarnai oleh situasi perang dibandingkan pembangunan kota.
Banjarmasin Setelah Kemerdekaan Indonesia
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, posisi Banjarmasin semakin strategis dalam struktur pemerintahan nasional.
Antara tahun 1945 hingga 1956, Banjarmasin berstatus sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan yang saat itu masih mencakup seluruh wilayah Pulau Kalimantan.
Ketika provinsi-provinsi baru dibentuk, Banjarmasin kemudian menjadi ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan dan mempertahankan status tersebut hingga sekarang.
Seiring pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi, wilayah administrasi kota terus mengalami penyesuaian.
Jika pada awal 1960-an hanya terdapat satu kecamatan, maka pada tahun 1973 dilakukan pemekaran menjadi beberapa kecamatan untuk mendukung pelayanan pemerintahan yang lebih efektif.
Perkembangan tersebut menjadikan Banjarmasin tumbuh sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, pendidikan, dan jasa terbesar di Kalimantan Selatan.
Tantangan Kota Seribu Sungai di Era Modern
Meskipun sungai menjadi identitas utama Banjarmasin, perkembangan kota modern juga menghadirkan berbagai tantangan.
Pertumbuhan permukiman yang pesat menyebabkan sebagian aliran sungai menyempit bahkan tertutup bangunan. Beberapa anak sungai kehilangan fungsi alaminya sebagai saluran air.
Akibatnya, banjir rob dan genangan air menjadi masalah yang hampir setiap tahun dihadapi masyarakat. Ketika pasang Sungai Barito bertemu dengan curah hujan tinggi, kapasitas drainase sering kali tidak mampu menampung volume air yang masuk.
Selain itu, pembangunan kawasan perkotaan yang semakin padat juga mengurangi ruang terbuka hijau yang sebelumnya berfungsi sebagai daerah resapan.
Kondisi ini membuat pelestarian sungai menjadi salah satu agenda penting dalam pembangunan Banjarmasin masa kini.
Menghidupkan Kembali Budaya Sungai
Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kota Banjarmasin berupaya mengembalikan identitas sungai sebagai bagian utama wajah kota.
Berbagai kawasan tepi sungai direvitalisasi melalui pembangunan siring, ruang publik, taman kota, dan dermaga wisata. Pasar terapung terus dipromosikan sebagai ikon budaya yang mencerminkan kehidupan masyarakat sungai.
Pembangunan sejumlah jembatan dan kawasan waterfront juga dilakukan untuk menghubungkan kebutuhan kota modern dengan pelestarian warisan budaya sungai.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Banjarmasin tidak ingin meninggalkan akar sejarahnya. Sebaliknya, kota ini berusaha mengintegrasikan perkembangan modern dengan identitas sungai yang telah membentuknya selama hampir lima abad.
Banjarmasin Hari Ini, Kota Modern dengan Jiwa Sungai
Saat ini Banjarmasin merupakan pusat ekonomi, perdagangan, pendidikan, dan pemerintahan di Kalimantan Selatan. Namun di balik perkembangan tersebut, karakter kota sungai masih sangat terasa.
Jukung yang melintas di Sungai Martapura, aktivitas perdagangan di tepian sungai, pasar terapung, hingga permukiman tradisional yang masih bertahan menjadi pengingat bahwa sejarah Banjarmasin selalu berhubungan dengan air.
Dari sebuah bandar kecil bernama Banjarmasih, berkembang menjadi ibu kota Kesultanan Banjar, berubah menjadi kota kolonial modern, lalu menjadi pusat pemerintahan Kalimantan Selatan, Banjarmasin telah menempuh perjalanan panjang yang unik.
Tidak banyak kota di Indonesia yang identitas sejarah, budaya, dan kehidupannya begitu erat menyatu dengan sungai.
Karena itulah julukan Kota Seribu Sungai bukan sekadar slogan. Julukan tersebut merupakan cerminan dari sejarah panjang sebuah kota yang tumbuh, berkembang, dan bertahan berkat sungai-sungai yang mengalir di dalamnya selama berabad-abad.