Banjar Media - Connecting Banjar to The World Banjar Media - Connecting Banjar to The World

Menjembatani Banjar dengan Dunia

Press ESC to close

Sejarah Kota Martapura

Dari Pusat Kesultanan Banjar, hingga Dijuluki Serambi Makkah

Martapura merupakan salah satu kota bersejarah di Kalimantan Selatan yang memiliki peran penting dalam perjalanan politik, budaya, dan perkembangan Islam di Pulau Kalimantan. 

Kota yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Banjar ini terletak sekitar 40 kilometer di sebelah timur Banjarmasin dan berada di tepian Sungai Martapura, sungai yang sejak lama menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Banjar.

Saat ini Martapura dikenal luas dengan dua julukan yang melekat kuat pada identitasnya, yaitu Kota Intan dan Serambi Makkah

Namun di balik julukan tersebut, tersimpan kisah panjang tentang perpindahan pusat kerajaan, perjuangan melawan kolonialisme, hingga tumbuhnya tradisi pendidikan Islam yang masih bertahan hingga sekarang.

Awal Mula Martapura yang Dahulu Bernama Kayuntangi

Jauh sebelum dikenal sebagai Martapura, kawasan ini bernama Kayuntangi atau Kayu Tangi. Nama tersebut merupakan sebutan lama bagi wilayah yang kemudian berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan terpenting dalam sejarah Kesultanan Banjar.

Perubahan besar terjadi pada awal abad ke-17 ketika Kerajaan Banjar menghadapi tekanan dari Belanda. 

Setelah keraton di kawasan Kuwin, Banjarmasin, mengalami kehancuran akibat konflik dengan Belanda, Sultan Banjar keempat, Sultan Musta'in Billah, mengambil keputusan penting dengan memindahkan pusat pemerintahan kerajaan ke wilayah Kayuntangi.

Pada tahun 1612, keraton dipindahkan ke kawasan Telok Selong dan sekitarnya yang berada di wilayah Martapura sekarang. 

Perpindahan tersebut bukan hanya langkah strategis untuk mempertahankan kekuasaan kerajaan, tetapi juga menjadi titik awal berkembangnya Martapura sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Banjar.

Beberapa tahun kemudian, sekitar tahun 1630, Sultan Musta'in Billah memberikan nama baru bagi kawasan tersebut, yaitu Martapura. Sejak saat itu nama Martapura mulai dikenal sebagai pusat pemerintahan, budaya, dan kehidupan masyarakat Banjar.

Martapura Menjadi Jantung Kesultanan Banjar

Sejak keraton dipindahkan dari Banjarmasin, Martapura berkembang menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Banjar selama berabad-abad. Di kota inilah berbagai keputusan penting kerajaan diambil dan aktivitas pemerintahan dijalankan.

Salah satu kawasan penting pada masa itu adalah Bumi Keraton Kencana Martapura, yang menjadi pusat pelaksanaan kegiatan resmi kerajaan. Dari tempat inilah para sultan mengatur jalannya pemerintahan serta menjalin hubungan dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah kolonial Belanda.

Peran Martapura semakin kuat pada masa pemerintahan Sultan Adam Alwasiqubillah yang memerintah antara tahun 1825 hingga 1857. 

Masa pemerintahannya sering dianggap sebagai salah satu periode penting dalam sejarah Kesultanan Banjar karena berbagai kebijakan yang berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat.

Pada tahun 1826, Sultan Adam menandatangani perjanjian perbatasan dengan pemerintah Hindia Belanda di Martapura. Perjanjian tersebut menjadi salah satu bukti meningkatnya campur tangan kolonial dalam urusan kerajaan.

Tidak lama kemudian, tepatnya pada tahun 1835, Sultan Adam menetapkan hukum Islam secara resmi dalam pemerintahan Kesultanan Banjar. 

Kebijakan ini memperkuat posisi Islam dalam kehidupan sosial dan politik masyarakat Banjar, sekaligus menjadi fondasi penting yang kelak menjadikan Martapura sebagai salah satu pusat pendidikan Islam di Kalimantan.

Lahirnya Julukan Serambi Makkah

Jika ada satu hal yang paling melekat pada identitas Martapura hingga sekarang, maka itu adalah julukan Serambi Makkah.

Julukan tersebut bukan muncul tanpa alasan. Sejak masa Kesultanan Banjar, Martapura telah berkembang sebagai pusat penyebaran dan pengajaran agama Islam di Kalimantan Selatan. 

Dukungan para sultan terhadap pendidikan agama membuat kota ini menjadi tujuan para penuntut ilmu dari berbagai daerah.

Tradisi keislaman yang kuat semakin berkembang dengan berdirinya berbagai lembaga pendidikan Islam. Salah satu yang paling terkenal adalah Pondok Pesantren Darussalam Martapura, yang telah melahirkan banyak ulama dan tokoh agama berpengaruh di Kalimantan.

Selain Darussalam, puluhan pesantren lain tumbuh di berbagai penjuru Martapura. Kehadiran para santri yang datang dari berbagai daerah menciptakan suasana religius yang khas. Pemandangan santri berpakaian putih berjalan menuju masjid, langgar, dan pesantren menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kota ini.

Karena itulah Martapura tidak hanya dikenal sebagai pusat pendidikan Islam, tetapi juga sebagai pusat pemikiran dan dakwah Islam yang dihormati di Kalimantan Selatan. Hingga kini identitas tersebut masih sangat terasa dalam kehidupan masyarakatnya.

Martapura dalam Masa Kolonial dan Perang Banjar

Memasuki abad ke-19, pengaruh Belanda terhadap Kesultanan Banjar semakin kuat. Berbagai perjanjian politik yang dibuat dengan pemerintah kolonial perlahan mengurangi kedaulatan kerajaan.

Di tengah situasi tersebut, Martapura menjadi salah satu lokasi penting dalam lahirnya gerakan perlawanan terhadap Belanda. Kota ini juga memiliki hubungan erat dengan salah satu tokoh besar dalam sejarah Banjar, yaitu Pangeran Hidayatullah.

Pangeran Hidayatullah lahir di Martapura sekitar tahun 1821 hingga 1822. Berbeda dengan banyak anggota keluarga kerajaan lainnya, masa kecil dan remajanya lebih banyak dihabiskan bersama sang ibu di lingkungan masyarakat Martapura, bukan di dalam istana.

Kedekatannya dengan masyarakat membuat Pangeran Hidayatullah memiliki dukungan yang luas ketika konflik dengan Belanda semakin memanas. 

Pada tanggal 3 November 1857, sebuah pertemuan penting di Martapura menghasilkan kesepakatan bahwa menentang Sultan Tamjidillah yang didukung Belanda berarti juga menentang kekuasaan kolonial.

Kesepakatan tersebut menjadi salah satu langkah awal yang kemudian mengarah pada pecahnya Perang Banjar pada tahun 1859. Dalam perang yang berlangsung hingga tahun 1863 itu, Martapura menjadi salah satu wilayah strategis bagi para pejuang Banjar.

Berakhirnya Kesultanan Banjar

Konflik yang berkepanjangan akhirnya membawa perubahan besar dalam sejarah Kalimantan Selatan. Pada tanggal 11 Juni 1860, pemerintah Hindia Belanda secara resmi menghapus Kesultanan Banjar.

Keputusan tersebut mengakhiri eksistensi kerajaan yang telah berdiri selama berabad-abad. Martapura yang sebelumnya menjadi pusat pemerintahan kerajaan kehilangan statusnya sebagai ibu kota kesultanan.

Meski demikian, berakhirnya Kesultanan Banjar tidak menghapus pengaruh budaya dan nilai-nilai yang telah tumbuh selama ratusan tahun. Tradisi Islam, adat Banjar, serta semangat perjuangan masyarakat tetap bertahan dan diwariskan hingga generasi berikutnya.

Martapura di Era Modern

Saat ini Martapura berstatus sebagai ibu kota Kabupaten Banjar dan menjadi salah satu pusat pemerintahan serta perekonomian penting di Kalimantan Selatan.

Kota ini tetap mempertahankan karakter khas yang terbentuk sejak masa kerajaan. Identitas sebagai kota religius masih sangat kuat, terlihat dari banyaknya pesantren, masjid, dan aktivitas keagamaan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

Di sisi lain, Martapura juga dikenal sebagai Kota Intan karena aktivitas perdagangan batu mulia dan intan yang telah berlangsung sejak lama. 

Kombinasi antara warisan sejarah kerajaan, tradisi Islam yang kuat, dan aktivitas ekonomi menjadikan Martapura memiliki karakter yang berbeda dibandingkan kota-kota lain di Kalimantan Selatan.

Meski telah berkembang menjadi kota modern, jejak sejarahnya masih dapat ditemukan melalui berbagai situs bersejarah, tradisi budaya, serta cerita-cerita yang hidup di tengah masyarakat Banjar.

Warisan Sejarah yang Tetap Hidup

Perjalanan panjang Martapura menunjukkan bagaimana sebuah kota dapat berkembang dari pusat kerajaan menjadi pusat pendidikan Islam yang berpengaruh. 

Dari masa ketika masih bernama Kayuntangi, perpindahan keraton oleh Sultan Musta'in Billah, kejayaan Kesultanan Banjar, perjuangan Pangeran Hidayatullah dalam Perang Banjar, hingga perannya sebagai ibu kota Kabupaten Banjar saat ini, Martapura selalu menjadi bagian penting dari sejarah Kalimantan Selatan.

Julukan Serambi Makkah dan Kota Intan bukan sekadar sebutan, melainkan cerminan identitas yang terbentuk melalui perjalanan sejarah selama berabad-abad. 

Hingga kini Martapura tetap dikenal sebagai kota yang menjaga warisan budaya Banjar, memperkuat tradisi pendidikan Islam, serta menjadi salah satu pusat sejarah terpenting di Kalimantan Selatan.

 

Related Posts

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari
Sejarah Kota Banjarmasin
Sejarah Pangeran Hidayatullah
Kerajaan Negara Dipa dan Awal Mula Berdirinya
Banjar Media Editorial Team

Research and Analyst Team

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *

Pengalaman Anda di situs ini akan ditingkatkan dengan mengizinkan cookie.