Banjar Media - Connecting Banjar to The World Banjar Media - Connecting Banjar to The World

Menjembatani Banjar dengan Dunia

Press ESC to close

Tasbih Pukaha Martapura

Kerajinan Religius Khas Banjar yang Mendunia

 

Warisan Kerajinan dari Kota Serambi Mekkah

Martapura, ibu kota Kabupaten Banjar di Kalimantan Selatan, telah lama dikenal sebagai pusat kerajinan batu mulia dan perhiasan. Kota ini bahkan meraih predikat sebagai "Kota Intan" dan "Serambi Mekkah" karena peran pentingnya dalam perkembangan pendidikan dan budaya Islam di Kalimantan Selatan. 

Namun di balik gemerlap intan dan permata, terdapat sebuah kerajinan khas yang tidak kalah menarik, yaitu tasbih pukaha. Kerajinan ini telah menjadi bagian dari identitas budaya dan ekonomi masyarakat Banjar selama bertahun-tahun, sekaligus menjadi salah satu cenderamata yang paling dicari oleh wisatawan yang berkunjung ke Martapura.

Tasbih pukaha dibuat dari buah atau biji pukaha (sering juga disebut kaukah, fukaha, fuqaha, atau pukah) yang didatangkan dari kawasan Timur Tengah, khususnya Arab Saudi. Bahan alami tersebut kemudian diolah oleh tangan-tangan terampil para perajin Banjar menjadi tasbih, gelang, kalung, cincin, dan berbagai aksesori lainnya yang memiliki nilai seni sekaligus nilai religius yang tinggi bagi masyarakat Muslim.

Asal Usul dan Sejarah Tasbih Pukaha

Sejarah tasbih pukaha bermula dari hubungan dagang antara masyarakat Banjar dengan para pedagang dari Timur Tengah. Sejak abad ke-17, ketika Kesultanan Banjar sedang dalam masa kejayaan perdagangan, para pedagang Arab dan India mulai datang ke Banjarmasin untuk membeli lada dan hasil alam lainnya. 

Dalam perjalanan dagang mereka, mereka juga membawa serta berbagai bahan dari Tanah Arab, termasuk biji pukaha yang kemudian menjadi populer di kalangan masyarakat Banjar.

Biji pukaha sendiri berasal dari tanaman Eurycoma longifolia yang tumbuh di daerah gurun dan semi-gurun di Timur Tengah. Masyarakat Arab sejak lama menggunakan biji ini untuk membuat tasbih karena dianggap memiliki nilai spiritual yang tinggi. Ketika biji pukaha masuk ke wilayah Banjar, para perajin lokal mulai mengolahnya dengan teknik khas mereka, menciptakan produk yang unik dan berbeda dari versi asli Arab.

Perkembangan tasbih pukaha di Martapura semakin pesat pada abad ke-20, ketika kota ini mulai berkembang sebagai pusat kerajinan batu mulia. Para perajin yang awalnya hanya fokus pada batu permata, mulai mengembangkan kerajinan tasbih pukaha sebagai alternatif produk yang lebih terjangkau namun tetap memiliki nilai religius. 

Hingga kini, tasbih pukaha menjadi salah satu produk kerajinan paling khas dari Martapura yang dikenal hingga ke luar negeri.

Nilai Religius dan Makna Spiritual

Bagi banyak masyarakat Banjar, tasbih pukaha bukan sekadar benda kerajinan atau suvenir. Tasbih ini memiliki makna yang lebih dalam karena erat kaitannya dengan tradisi Islam yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat setempat. Martapura sendiri dikenal sebagai "Kota Serambi Mekkah" karena peran pentingnya dalam perkembangan pendidikan dan budaya Islam di Kalimantan Selatan. 

Banyak pesantren, madrasah, dan lembaga pendidikan Islam yang berdiri di kota ini, menjadikannya pusat penyebaran ajaran Islam di wilayah Kalimantan.

Kedekatan bahan pukaha dengan wilayah Arab membuat banyak orang menganggap tasbih ini memiliki nilai simbolis tersendiri. Tidak sedikit jamaah haji dan umrah yang mengenal bahan serupa selama berada di Tanah Suci, sehingga tasbih pukaha sering dipandang sebagai pengingat perjalanan spiritual dan sarana untuk memperkuat ibadah sehari-hara. 

Tasbih ini digunakan untuk membaca dzikir, salawat, dan doa, menjadikannya alat ibadah yang praktis dan bernilai tinggi.

Meskipun nilai spiritual tersebut lebih bersifat tradisi dan keyakinan masyarakat, keberadaannya telah menjadikan tasbih pukaha sebagai salah satu produk yang memiliki daya tarik khusus dibandingkan kerajinan lainnya. 

Bagi banyak orang, menggunakan tasbih pukaha bukan hanya soal estetika, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap nilai agama dan kearifan lokal.

Proses Pembuatan yang Mengandalkan Keterampilan Tangan

Pembuatan tasbih pukaha membutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi karena seluruh prosesnya masih dilakukan secara manual. Setelah bahan baku tiba di Martapura dari Arab Saudi, buah atau biji pukaha terlebih dahulu dipilih berdasarkan ukuran dan kualitasnya. Biji yang rusak atau tidak bagus, tidak akan digunakan untuk memastikan kualitas produk akhir.

Selanjutnya, bahan tersebut dipotong sesuai kebutuhan, dibelah, dibor, dan dilubangi secara hati-hati menggunakan alat tradisional seperti bor tangan dan gergaji kecil. Proses ini memerlukan keahlian khusus karena biji pukaha memiliki tekstur yang keras namun mudah pecah jika tidak diolah dengan tepat.

Setelah itu, setiap butiran dibentuk hingga menghasilkan ukuran yang seragam. Proses penghalusan dilakukan dengan cara digosok berulang kali menggunakan kain halus dan bahan pengasah alami agar permukaannya menjadi lebih halus dan nyaman digunakan. Tahapan terakhir adalah merangkai butiran menjadi tasbih atau aksesori lainnya menggunakan tali katun, tali nilon, atau tali emas sesuai dengan desain yang diinginkan.

Di beberapa sentra kerajinan di Martapura, proses produksi dilakukan secara gotong royong atau kelompok. Ada perajin yang khusus bertugas memotong bahan, ada yang melubangi, ada pula yang fokus pada proses penghalusan dan perakitan. 

Pembagian pekerjaan seperti ini memungkinkan produksi berjalan lebih efisien sekaligus mempertahankan kualitas hasil kerajinan. Sentra kerajinan tasbih pukaha paling terkenal terdapat di Desa Kramat Wangi (Martapura Timur) dan Teluk Selong Ulu (Kecamatan Martapura Barat) di Martapura.

Ikon Kerajinan Khas Martapura

Saat berkunjung ke pusat perbelanjaan cenderamata atau kawasan Pasar Martapura, wisatawan akan dengan mudah menemukan tasbih pukaha dipajang berdampingan dengan batu mulia, intan, dan berbagai produk kerajinan Banjar lainnya. Keberadaan tasbih ini telah menjadi bagian dari wajah ekonomi kreatif Martapura dan menjadi salah satu daya tarik wisata budaya kota ini.

Harga tasbih pukaha sangat beragam, mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Perbedaan harga biasanya dipengaruhi oleh ukuran butiran, kualitas bahan, tingkat kerumitan pengerjaan, serta desain yang digunakan. Tasbih dengan butiran besar dan permukaan yang lebih halus tentu memiliki harga lebih tinggi dibandingkan tasbih dengan butiran kecil. 

Beberapa perajin bahkan menerima pesanan khusus dengan model dan ukiran tertentu untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dari berbagai daerah, termasuk untuk acara haji, umrah, nikah, dan syukuran.

Selain dipasarkan di Kalimantan Selatan, produk ini juga telah menjangkau berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan Yogyakarta

Melalui jaringan perdagangan dan pemasaran digital seperti Tokopedia, Shopee, Instagram, dan Facebook, tasbih pukaha kini dapat ditemukan hingga ke luar negeri seperti Arab Saudi, Malaysia, Brunei, dan Singapura sebagai salah satu produk kerajinan khas Banjar yang mendunia.

Menjaga Tradisi di Tengah Perkembangan Zaman

Di tengah maraknya produk pabrikan dan aksesori modern, tasbih pukaha tetap mampu mempertahankan eksistensinya. Keunikan bahan, proses pembuatan yang masih banyak dilakukan secara manual, serta nilai budaya yang melekat menjadikannya berbeda dari produk sejenis yang diproduksi secara massal. 

Tasbih pukaha juga mengguakkan bahan alami yang ramah lingkungan, sehingga sesuai dengan tren produk berkelanjutan yang semakin populer di era modern.

Bagi masyarakat Banjar, tasbih pukaha bukan hanya hasil kerajinan tangan, melainkan juga bagian dari warisan budaya yang merefleksikan keterampilan, ketekunan, dan identitas religius masyarakat Martapura. 

Oleh karena itu, keberadaan para perajin tasbih pukaha memiliki peran penting dalam menjaga tradisi sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Banjar kepada masyarakat yang lebih luas. 

Beberapa lembaga kebudayaan dan pemerintah daerah juga mulai memberikan dukungan melalui program pelatihan, bantuan modal, dan pameran kerajinan untuk membantu perajin tasbih pukaha mengembangkan produk mereka.

Hingga kini, tasbih pukaha tetap menjadi salah satu cenderamata khas Martapura yang paling dikenal. Sebuah karya sederhana dari bahan alami yang mampu menyatukan nilai seni, budaya, dan spiritualitas dalam satu rangkaian butiran yang penuh makna. 

Tasbih pukaha bukan hanya produk kerajinan, tetapi juga simbol identitas masyarakat Banjar yang religius, kreatif, dan terus beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan akar budaya mereka.

 

Related Posts

Alat Musik Panting Banjar
Kain Sasirangan, Identitas Budaya Kalimantan Selatan
Kopiah Jangang, Topi Tradisional Khas Banjar
Lampit Rotan Amuntai
Banjar Media Editorial Team

Research and Analyst Team

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *

Pengalaman Anda di situs ini akan ditingkatkan dengan mengizinkan cookie.