Jejak Kerajaan Hindu Tertua dan Awal Peradaban Banjar di Kalimantan Selatan
Di tengah Kota Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, berdiri sebuah kawasan bersejarah yang menyimpan kisah panjang lahirnya peradaban Banjar.
Tempat tersebut adalah Candi Agung, sebuah situs purbakala yang diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Negara Dipa, kerajaan bercorak Hindu yang menjadi cikal bakal lahirnya kerajaan-kerajaan besar di Kalimantan Selatan hingga akhirnya berkembang menjadi Kesultanan Banjar.
Bagi masyarakat Banjar, Candi Agung bukan sekadar objek wisata sejarah. Situs ini merupakan simbol perjalanan panjang nenek moyang mereka, tempat bertemunya legenda, sejarah, budaya, dan identitas yang telah diwariskan selama berabad-abad. Hingga kini, Candi Agung tetap menjadi salah satu destinasi sejarah paling penting di Kalimantan Selatan dan menarik ribuan wisatawan setiap tahunnya.
Awal Mula Berdirinya Kerajaan Negara Dipa
Sejarah Candi Agung tidak dapat dipisahkan dari kisah berdirinya Kerajaan Negara Dipa pada abad ke-14. Menurut Hikayat Banjar dan berbagai sumber sejarah, kerajaan ini didirikan oleh Ampu Jatmika, seorang saudagar sekaligus tokoh berpengaruh yang berasal dari negeri Keling atau wilayah Koromandel di India Selatan.
Dikisahkan bahwa pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk, Ampu Jatmika diutus ke Pulau Kalimantan untuk memperluas pengaruh Majapahit sekaligus membangun pusat pemerintahan baru. Setelah tiba di wilayah Kalimantan Selatan, ia mendirikan Kerajaan Negara Dipa sekitar tahun 1380-an.
Ampu Jatmika dikenal bukan sebagai bangsawan kerajaan, melainkan seorang tokoh pedagang yang memiliki kemampuan kepemimpinan luar biasa. Karena merasa dirinya bukan berasal dari garis keturunan raja, ia memilih tidak menyandang gelar raja.
Sebagai gantinya, ia membangun fondasi pemerintahan dan menyiapkan penerus yang dianggap lebih berhak memimpin kerajaan.
Dalam proses inilah kawasan yang kini dikenal sebagai Candi Agung mulai berkembang sebagai pusat pemerintahan dan aktivitas keagamaan kerajaan.
Candi Agung dan Pusat Kerajaan Negara Dipa
Pada masa awal berdirinya Negara Dipa, pusat pemerintahan berada di wilayah Candi Laras yang terletak di daerah hilir Sungai Bahan. Namun seiring perkembangan kerajaan, pusat kekuasaan kemudian dipindahkan ke wilayah Amuntai yang berada di bagian hulu sungai.
Di lokasi inilah Candi Agung dibangun dan berfungsi sebagai salah satu bangunan penting kerajaan.
Selain menjadi tempat pelaksanaan kegiatan keagamaan Hindu, kawasan ini juga diyakini berperan sebagai pusat pemerintahan, tempat berlangsungnya berbagai upacara kerajaan, serta simbol legitimasi kekuasaan Negara Dipa.
Posisinya yang strategis di jalur sungai menjadikan kawasan ini mudah diakses dan berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi, politik, serta budaya pada masanya.
Legenda Lambung Mangkurat dan Putri Junjung Buih
Pembahasan mengenai Candi Agung hampir selalu berkaitan dengan legenda paling terkenal dalam sejarah Banjar, yaitu kisah Lambung Mangkurat dan Putri Junjung Buih.
Setelah Ampu Jatmika wafat, pemerintahan dijalankan oleh putranya yang bernama Lambung Mangkurat.
Namun karena ia juga bukan keturunan raja, Lambung Mangkurat memilih menjadi pemangku pemerintahan sambil mencari sosok yang dianggap memiliki legitimasi untuk memimpin Negara Dipa.
Menurut legenda yang hidup turun-temurun, Lambung Mangkurat melakukan pertapaan hingga memperoleh petunjuk gaib. Dari sebuah pusaran air di sungai kemudian muncul seorang perempuan cantik yang dikenal sebagai Putri Junjung Buih.
Putri Junjung Buih kemudian dinobatkan sebagai penguasa Negara Dipa. Untuk mendampingi sang putri, didatangkan seorang bangsawan dari Majapahit bernama Pangeran Suryanata.
Pernikahan keduanya menjadi tonggak penting dalam sejarah Kalimantan Selatan karena dari garis keturunan inilah lahir para penguasa Negara Dipa, Negara Daha, hingga Kesultanan Banjar.
Meski mengandung unsur legenda, kisah ini memiliki posisi yang sangat penting dalam budaya Banjar karena menjadi dasar silsilah kerajaan yang dihormati hingga sekarang.
Masa Keemasan Kerajaan Negara Dipa
Pada masa pemerintahan Putri Junjung Buih dan Pangeran Suryanata, Kerajaan Negara Dipa berkembang menjadi salah satu kekuatan terbesar di Pulau Kalimantan.
Wilayah kekuasaannya membentang sangat luas, mencakup daerah-daerah yang kini berada di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, hingga sebagian Kalimantan Timur. Pengaruh kerajaan bahkan mencapai wilayah Sambas, Sukadana, Kotawaringin, Pasir, Berau, dan sejumlah daerah lainnya.
Jalur sungai menjadi urat nadi kehidupan kerajaan. Melalui sungai-sungai besar, perdagangan berkembang pesat dan hubungan dengan berbagai wilayah Nusantara dapat terjalin dengan baik.
Pada masa inilah kawasan Candi Agung menjadi bagian penting dari pusat peradaban yang menghubungkan berbagai daerah di Kalimantan.
Temuan Arkeologi yang Mengungkap Masa Lalu
Keberadaan Candi Agung selama berabad-abad sempat hanya dikenal melalui cerita rakyat dan naskah kuno. Namun berbagai penelitian arkeologi kemudian membuktikan bahwa lokasi tersebut memang menyimpan peninggalan bersejarah yang sangat tua.
Struktur candi ditemukan berada sekitar 40 sentimeter di bawah permukaan tanah. Sisa-sisa fondasi kuno menunjukkan adanya bangunan penting yang pernah berdiri di kawasan tersebut.
Penelitian radiokarbon yang dilakukan pada tahun 1997 menghasilkan temuan menarik. Hasil pengujian menunjukkan bahwa bangunan yang ditemukan berasal dari periode Kerajaan Negara Dipa pada abad ke-14.
Namun yang lebih mengejutkan, jejak aktivitas manusia di lokasi tersebut ternyata telah ada sejak sekitar tahun 750 Masehi.
Temuan ini menunjukkan bahwa kawasan Amuntai telah dihuni dan berkembang sebagai pusat aktivitas manusia jauh sebelum berdirinya Negara Dipa.
Dengan kata lain, Candi Agung berdiri di atas wilayah yang telah memiliki sejarah panjang selama ratusan tahun.
Runtuhnya Negara Dipa dan Lahirnya Negara Daha
Seperti kerajaan besar lainnya, kejayaan Negara Dipa tidak berlangsung selamanya. Menjelang akhir abad ke-15, kerajaan mulai mengalami kemunduran akibat berbagai faktor.
Perubahan kondisi lingkungan menyebabkan sejumlah jalur sungai mengalami pendangkalan sehingga aktivitas perdagangan dan transportasi menjadi terganggu. Selain itu, muncul berbagai dinamika politik dan konflik internal yang melemahkan stabilitas kerajaan.
Pada akhirnya, pusat kekuasaan dipindahkan ke daerah Negara Daha. Perpindahan ini menandai berakhirnya masa kejayaan Negara Dipa sekaligus membuka babak baru dalam sejarah kerajaan Banjar.
Meskipun kerajaan berpindah, kawasan Candi Agung tetap dikenang sebagai tempat lahirnya kerajaan yang menjadi cikal bakal sejarah politik Kalimantan Selatan.
Pelestarian Situs Candi Agung
Kesadaran akan pentingnya nilai sejarah Candi Agung mulai mendapat perhatian serius pada abad ke-20. Pada tahun 1978, pemerintah melalui Direktorat Sejarah dan Purbakala menetapkan Candi Agung sebagai salah satu situs peninggalan sejarah dan purbakala penting di Kalimantan Selatan.
Sejak saat itu berbagai upaya konservasi dilakukan untuk menjaga keberadaan situs ini. Penelitian arkeologi terus dilaksanakan, area situs ditata, dan fasilitas wisata mulai dibangun untuk mendukung kegiatan edukasi sejarah.
Kehadiran Museum Candi Agung semakin memperkaya pengalaman wisatawan. Di museum ini pengunjung dapat melihat berbagai koleksi yang berkaitan dengan sejarah Kerajaan Negara Dipa, budaya Banjar, pakaian adat, hingga replika benda-benda yang menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa lampau.
Menjadi Destinasi Wisata Sejarah Favorit
Saat ini Candi Agung menjadi salah satu tujuan wisata sejarah paling populer di Kalimantan Selatan. Kawasannya yang luas, bersih, dan tertata rapi membuat wisatawan dapat menikmati suasana yang nyaman sambil mempelajari sejarah daerah.
Setiap musim liburan, ribuan pengunjung datang dari berbagai daerah di Kalimantan untuk menyaksikan langsung situs yang selama ini hanya mereka kenal dari buku sejarah dan cerita rakyat.
Tidak sedikit pula wisatawan yang datang untuk mengenal lebih dekat asal-usul Kerajaan Banjar dan jejak pengaruh Majapahit di Pulau Kalimantan.
Keberadaan taman, pendopo, museum, serta area situs arkeologi menjadikan Candi Agung sebagai destinasi yang cocok untuk wisata keluarga, wisata edukasi, maupun penelitian sejarah.
Simbol Awal Peradaban Banjar
Lebih dari sekadar objek wisata, Candi Agung merupakan saksi bisu perjalanan panjang masyarakat Banjar dari masa kerajaan Hindu hingga berkembang menjadi kesultanan Islam yang berpengaruh di Kalimantan.
Di balik sisa-sisa struktur kunonya tersimpan cerita tentang Ampu Jatmika, Lambung Mangkurat, Putri Junjung Buih, dan Pangeran Suryanata yang menjadi bagian penting dalam pembentukan identitas budaya Banjar.
Tidak berlebihan jika Candi Agung disebut sebagai salah satu situs sejarah paling berharga di Kalimantan Selatan.
Bagi siapa pun yang ingin memahami akar sejarah Banjar dan perkembangan peradaban di Pulau Kalimantan, berkunjung ke Candi Agung Amuntai adalah perjalanan menelusuri jejak masa lalu yang masih hidup hingga hari ini.