Jejak Perjuangan Rakyat Kalimantan Selatan di Tepi Sungai Martapura
Museum Wasaka atau Museum Waja Sampai Kaputing adalah salah satu museum sejarah paling penting di Kalimantan Selatan yang menyimpan semangat perjuangan rakyat Banjar dari masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga Revolusi Fisik 1945–1949.
Di dalam bangunan kayu ulin yang khas rumah Banjar ini, tersimpan sekitar 400 artefak bersejarah yang merekam perjalanan panjang perlawanan rakyat terhadap penjajahan.
Nama “Wasaka” sendiri berasal dari istilah Banjar “Waja Sampai Kaputing”, yang bermakna besi sampai habis atau pantang menyerah sampai titik darah penghabisan.
Filosofi ini menjadi inti dari seluruh isi museum, bukan hanya sebagai tempat penyimpanan benda sejarah, tetapi juga sebagai simbol mentalitas perjuangan masyarakat Kalimantan Selatan.
Sejarah Museum Wasaka, Dari Rumah Saudagar Berlian Menjadi Museum Perjuangan
Bangunan Museum Wasaka awalnya bukan museum. Rumah ini adalah Rumah Banjar tipe Bubungan Tinggi yang dibangun sekitar tahun 1810 menggunakan material utama kayu ulin, kayu keras khas Kalimantan yang terkenal tahan puluhan hingga ratusan tahun.
Rumah ini milik seorang saudagar berlian bernama Datu Jalal, yang pada masa itu merupakan tokoh ekonomi berpengaruh di wilayah Banjar.
Perubahan fungsi bangunan mulai terjadi pada 1988, ketika rumah tersebut dijual kepada pemerintah daerah. Awalnya bangunan ini difungsikan sebagai rumah budaya, sebelum kemudian mendapat dorongan kuat dari Gubernur Kalimantan Selatan saat itu, Ir. H. M. Said, untuk dijadikan museum perjuangan.
Akhirnya pada 10 November 1991, bertepatan dengan Hari Pahlawan, Museum Wasaka diresmikan sebagai Museum Perjuangan Rakyat Kalimantan Selatan.
Saat pertama kali dibuka, koleksinya masih sekitar 77 benda, namun seiring waktu berkembang hingga mencapai sekitar 400 koleksi artefak.
Isi dan Koleksi Museum Wasaka, Dari Mandau Hingga Baju Kebal Barajah
Meski bangunannya tidak terlalu besar, isi Museum Wasaka sangat padat dan penuh cerita sejarah. Setiap sudut ruangan menampilkan fragmen perjuangan rakyat Banjar dalam berbagai bentuk.
Koleksi senjata menjadi salah satu daya tarik utama. Di dalamnya terdapat mandau, tombak, senjata api peninggalan VOC, hingga pistol Belanda. Tidak hanya itu, terdapat pula senapan, mortir, dan senjata rakitan seperti senapan angin kayu yang digunakan dalam kondisi darurat pada masa perjuangan.
Yang membuat museum ini unik adalah keberadaan baju kebal “barajah”, yaitu pakaian perang yang dipercaya memiliki kekuatan perlindungan melalui mantra tradisional. Koleksi ini mencerminkan perpaduan antara kekuatan fisik dan spiritual dalam budaya perang masyarakat Banjar.
Selain senjata, museum ini juga menyimpan dokumen perjuangan, peta pertempuran, serta arsip organisasi seperti Lasykar Hasbullah dan Barisan Pemuda Republik Indonesia Kalimantan Selatan. Foto-foto lama, termasuk foto gubernur dari masa ke masa, juga tersusun rapi sebagai dokumentasi perjalanan sejarah daerah.
Di bagian lain, pengunjung dapat melihat diorama miniatur pertempuran di Kotabaru, mesin tik kuno, kamera tua, hingga sepeda yang dahulu digunakan untuk mengirim pesan secara rahasia. Ada pula perabot rumah tangga seperti meja musyawarah, kursi tamu, dan pakaian zaman dahulu yang menggambarkan kehidupan sosial masa itu.
Salah satu koleksi paling berkesan adalah etalase yang berisi barang pribadi dan senjata milik pahlawan Hassan Basri, lengkap dengan lukisan yang memperkuat narasi perjuangannya. Di sisi lain, terdapat juga simbol-simbol administratif seperti logo 13 kabupaten di Kalimantan Selatan yang menunjukkan identitas wilayah.
Lokasi Museum Wasaka: Tepi Sungai Martapura yang Ikonik
Museum Wasaka berlokasi di Gang H. Andir, Kampung Kenanga Ulu RT 14, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Letaknya sangat strategis karena berada tepat di tepi Sungai Martapura, berdampingan dengan Jembatan Banua Anyar (Jembatan 17 Mei).
Posisi ini membuat museum mudah dikenali, terutama bagi wisatawan yang menyusuri sungai menggunakan perahu. Bahkan, dermaga kecil tepat di depan museum memungkinkan pengunjung turun langsung dari klotok.
Cara Menuju Museum Wasaka dari Pusat Kota Banjarmasin
Dari pusat Kota Banjarmasin, jarak menuju Museum Wasaka hanya sekitar 3 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 10–15 menit menggunakan kendaraan darat. Rute paling umum adalah melalui Jalan Sultan Adam ke arah utara hingga melewati Jembatan Banua Anyar, kemudian museum akan terlihat di sisi sungai.
Transportasi yang bisa digunakan cukup beragam, mulai dari kendaraan pribadi, ojek online seperti Gojek atau Grab, hingga taksi lokal. Karena jaraknya dekat, beberapa pengunjung bahkan memilih bersepeda atau berjalan kaki sambil menikmati suasana kota.
Namun, cara yang paling berkesan adalah melalui jalur sungai. Dari Siring Piere Tendean, pengunjung dapat menyewa klotok atau kelotok, yaitu perahu mesin khas Banjarmasin. Perjalanan menyusuri Sungai Martapura ini memakan waktu sekitar 10–20 menit, tergantung arus dan titik keberangkatan.
Selain menuju museum, perjalanan ini sekaligus memberikan pengalaman khas “Kota Seribu Sungai” yang menjadi identitas Banjarmasin.
Waktu Kunjungan Museum Wasaka
Museum Wasaka tidak buka sepanjang hari, sehingga waktu kunjungan perlu diperhatikan. Museum biasanya buka pada hari:
Selasa hingga Kamis pukul 09.00–12.00 WITA, Jumat pukul 09.00–11.00 WITA, serta Sabtu dan Minggu pukul 09.00–12.30 WITA. Museum tutup pada hari Senin dan hari libur nasional.
Waktu kunjungan yang relatif singkat ini membuat pengunjung disarankan datang lebih awal agar bisa menjelajahi seluruh ruangan tanpa terburu-buru.
Biaya Masuk dan Fasilitas
Salah satu hal menarik dari Museum Wasaka adalah tidak adanya tiket masuk alias gratis. Pengunjung hanya perlu mengisi buku tamu saat datang. Biaya tambahan hanya untuk parkir kendaraan yang biasanya berkisar antara Rp3.000 hingga Rp5.000.
Meskipun gratis, museum ini tetap dikelola sebagai ruang edukasi sejarah yang serius. Pengunjung akan menemukan suasana yang tenang, cocok untuk belajar sejarah lokal atau sekadar mengenal lebih dalam budaya Banjar.
Daya Tarik Lain Museum Wasaka
Selain koleksi sejarahnya, Museum Wasaka memiliki daya tarik dari sisi arsitektur. Bangunan rumah Banjar Bubungan Tinggi yang berdiri di atas kayu ulin membuatnya terlihat sangat autentik dan fotogenik.
Keberadaan tawing halat, yaitu dinding pembatas khas rumah Banjar, menambah nilai budaya yang kuat. Lingkungan sekitar yang berada di tepi sungai juga menciptakan suasana khas Kalimantan yang tenang dan alami.
Museum ini bukan hanya tempat menyimpan benda, tetapi juga ruang untuk memahami bagaimana rakyat Banjar membangun identitas, mempertahankan wilayah, dan menjaga martabat mereka dalam sejarah panjang perjuangan bangsa.
Museum Wasaka Banjar adalah destinasi sejarah yang sederhana namun penuh makna. Dari rumah saudagar berlian abad ke-19 hingga menjadi museum perjuangan nasional, tempat ini menyimpan ribuan cerita tentang keberanian, strategi, dan keteguhan rakyat Kalimantan Selatan.
Bagi siapa pun yang berkunjung ke Banjarmasin, Museum Wasaka bukan sekadar tempat wisata, tetapi sebuah perjalanan kembali ke masa lalu, ke era ketika semangat “Waja Sampai Kaputing” menjadi napas perjuangan yang tidak pernah padam.