Kue Ketan Isi Kelapa dalam Tradisi 41 Wadai Banjar dengan Isian Unti Kelapa Manis
Di antara beragam wadai tradisional Banjar yang diwariskan turun-temurun, Papare menempati posisi yang unik. Kue tradisional ini tidak hanya dikenal karena bentuknya yang menyerupai buah pare, tetapi juga karena filosofi, sejarah, dan perannya dalam berbagai tradisi masyarakat Banjar.
Sekilas tampil sederhana dengan warna hijau yang menarik dan tekstur bergerigi khas, namun di balik tampilannya tersimpan kisah panjang yang mencerminkan kearifan budaya Kalimantan Selatan.
Papare merupakan salah satu warisan kuliner yang masih dapat ditemukan dalam berbagai acara adat, hajatan keluarga, hingga pasar juadah pada bulan Ramadan. Kue ini menjadi bagian dari identitas kuliner masyarakat Banjar yang terus bertahan di tengah perkembangan zaman.
Asal Usul Papare, Kue Tradisional Khas Kalimantan Selatan
Papare, yang juga dikenal dengan nama Papari, Pare, Pepare, atau Wadai Paria, berasal dari wilayah Banjarmasin dan berkembang luas di Kalimantan Selatan. Kue ini merupakan salah satu wadai tradisional khas Urang Banjar yang telah dikenal selama beberapa generasi.
Nama Papare berasal dari bentuknya yang menyerupai buah pare atau paria. Bentuk luar kue dibuat memanjang dengan guratan-guratan menyerupai tekstur kulit pare. Dalam bahasa Banjar, istilah "hirip" sering digunakan untuk menggambarkan kemiripan bentuk tersebut.
Karena tampilannya yang sangat mirip pare, masyarakat kemudian menyebutnya sebagai Papare atau Papari. Meski menyerupai sayuran yang terkenal pahit, rasa Papare justru manis dan gurih sehingga menghadirkan kontras yang menarik antara penampilan dan isi.
Jejak Sejarah Papare dalam Tradisi Banjar
Papare termasuk salah satu anggota kelompok Wadai 41 Macam, yaitu kumpulan kue tradisional yang memiliki posisi penting dalam budaya Banjar.
Tradisi Wadai 41 dipercaya telah memiliki akar sejarah yang sangat tua. Beberapa kajian budaya mengaitkannya dengan masa Kerajaan Negara Dipa yang berkembang sebelum berdirinya Kesultanan Banjar.
Pada masa tersebut, berbagai jenis wadai digunakan dalam ritual dan persembahan yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat setempat.
Ketika Islam berkembang di Kalimantan Selatan dan Kesultanan Banjar berdiri pada abad ke-16, berbagai tradisi lama mengalami proses akulturasi.
Fungsi ritual yang sebelumnya terkait dengan kepercayaan lama perlahan berubah menjadi bagian dari kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat Muslim Banjar.
Dalam perkembangannya, Wadai 41 Macam, termasuk Papare, lebih banyak dimaknai sebagai simbol rasa syukur, keselamatan, serta doa untuk kebaikan keluarga dan masyarakat. Hingga kini, keberadaannya masih dipertahankan dalam berbagai upacara adat dan kegiatan keagamaan.
Ciri Khas Papare yang Membuatnya Berbeda dari Wadai Banjar Lain
Salah satu daya tarik utama Papare adalah bentuknya yang sangat khas. Tidak banyak wadai Banjar yang memiliki tampilan menyerupai sayuran tertentu.
Kulit Papare umumnya dibuat dari tepung ketan yang dicampur santan, air kapur sirih, serta sari daun suji atau pandan. Perpaduan bahan tersebut menghasilkan tekstur yang kenyal sekaligus aroma yang harum.
Bagian dalamnya diisi dengan unti, yaitu campuran kelapa parut dan gula merah yang dimasak hingga legit. Setelah dibentuk, permukaan Papare dibuat bergerigi menggunakan cetakan tradisional atau bantuan mayang pinang sehingga menyerupai buah pare asli.
Warna hijau alami dari daun suji dan pandan semakin memperkuat kemiripannya dengan pare, sekaligus memberikan aroma khas yang menggugah selera.
Perbedaan Papare dengan Wadai Banjar Lainnya
Di antara puluhan jenis wadai Banjar, Papare memiliki karakteristik yang cukup berbeda.
Jika Bingka menggunakan kentang, telur, santan, dan tepung terigu sebagai bahan utama, maka Papare mengandalkan tepung ketan sebagai bahan dasar kulitnya.
Sementara itu, Amparan Tatak dan Kue Cucur lebih banyak menggunakan tepung beras sehingga teksturnya berbeda dari Papare yang kenyal.
Kelalapon memang sama-sama menggunakan tepung ketan dan memiliki isian manis, namun bentuknya bulat dan dimasak dengan cara direbus.
Papare justru berbentuk menyerupai pare dan umumnya dikukus hingga matang.
Berbeda pula dengan Wajik yang menggunakan ketan tanpa isian, Papare memiliki kejutan rasa pada bagian dalam berupa unti kelapa dan gula merah yang legit.
Keunikan bentuk, warna, tekstur, serta isian inilah yang membuat Papare mudah dikenali di antara berbagai jenis wadai Banjar lainnya.
Apakah Papare Memiliki Variasi Isi?
Secara tradisional, Papare selalu menggunakan unti kelapa dan gula merah sebagai isiannya. Kombinasi ini dianggap sebagai ciri utama yang tidak terpisahkan dari identitas Papare.
Kelapa parut memberikan rasa gurih alami, sementara gula merah menghadirkan rasa manis yang khas. Perpaduan keduanya menciptakan keseimbangan rasa yang telah disukai masyarakat Banjar selama bertahun-tahun.
Dalam perkembangan modern, beberapa pembuat kue mulai melakukan inovasi dengan menambahkan cokelat, susu kental manis, kacang, hingga selai buah sebagai variasi rasa.
Namun demikian, versi tradisional dengan unti kelapa dan gula merah tetap menjadi bentuk yang paling dikenal dan dianggap autentik.
Makna Filosofis di Balik Bentuk Pare
Salah satu aspek paling menarik dari Papare adalah filosofi yang melekat pada bentuknya.
Pare dikenal sebagai sayuran yang identik dengan rasa pahit. Namun pada Papare, tampilan yang menyerupai pare justru menyimpan isi yang manis. Kontras tersebut melahirkan pesan moral yang mendalam bagi masyarakat Banjar.
Papare mengajarkan bahwa sesuatu tidak boleh dinilai hanya dari penampilan luarnya. Apa yang terlihat kurang menarik belum tentu buruk, dan sesuatu yang tampak baik belum tentu memiliki nilai yang baik pula.
Di balik bentuk yang menyerupai pare pahit, Papare menyimpan isian manis yang melambangkan kebaikan hati, ketulusan, dan nilai yang tersembunyi di dalam diri seseorang.
Selain itu, guratan-guratan pada permukaan Papare juga sering dimaknai sebagai simbol ketekunan, kesabaran, dan kehati-hatian. Proses pembuatannya yang memerlukan ketelitian menjadi pengingat bahwa hasil yang baik biasanya lahir dari kesabaran dan kerja yang sungguh-sungguh.
Papare Disajikan Saat Acara Apa Saja?
Dalam kehidupan masyarakat Banjar, Papare bukan sekadar makanan ringan. Kue ini hadir dalam berbagai momen penting yang berkaitan dengan tradisi dan kehidupan sosial.
Papare kerap disajikan dalam acara selamatan, syukuran, dan hajatan keluarga sebagai bagian dari rangkaian Wadai 41 Macam. Kehadirannya melambangkan harapan akan keselamatan dan keberkahan bagi tuan rumah maupun para tamu.
Selain itu, Papare juga dapat ditemukan dalam perayaan pernikahan, acara Batamat Al-Qur'an, Baayun Maulid, hingga tradisi Badudus. Pada bulan Ramadan, kue ini sering dijual di pasar juadah dan menjadi salah satu pilihan takjil favorit masyarakat.
Dalam beberapa daerah, Papare bahkan turut hadir dalam tradisi menduka keluarga sebagai bagian dari hidangan yang disiapkan untuk kerabat dan tamu yang datang berkunjung.
Papare sebagai Warisan Kuliner Banjar yang Tetap Bertahan
Di tengah masuknya berbagai jenis makanan modern, Papare tetap memiliki tempat istimewa dalam budaya kuliner Kalimantan Selatan. Kue ini bukan hanya menawarkan rasa manis dan tekstur kenyal yang khas, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, filosofi, dan identitas budaya masyarakat Banjar.
Bentuknya yang menyerupai pare menjadi simbol pelajaran hidup yang sederhana namun mendalam: jangan menilai sesuatu hanya dari tampilan luar.
Seperti Papare yang tampak seperti pare pahit tetapi berisi manis, kehidupan juga sering menyimpan kebaikan di balik sesuatu yang sekilas terlihat biasa saja.
Karena itulah Papare tidak sekadar menjadi wadai tradisional, melainkan juga menjadi bagian dari warisan budaya Banjar yang terus dikenang, dilestarikan, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.