Banjar Media - Connecting Banjar to The World Banjar Media - Connecting Banjar to The World

Menjembatani Banjar dengan Dunia

Press ESC to close

Tari Manopeng Banjarmasin, Ritual Topeng Sakral Banjar yang Penuh Misteri

Ritual Sakral, Topeng Pusaka, dan Kisah Mistis yang Masih Hidup di Banyiur Luar

 

Tari Manopeng, Tradisi Sakral Warisan Leluhur yang Masih Bertahan di Banjarmasin

Di tengah modernisasi Kota Banjarmasin yang terus berkembang, masih terdapat sebuah tradisi tua yang bertahan melintasi zaman. 

Tradisi tersebut adalah Tari Manopeng atau Batopengan, sebuah ritual topeng sakral masyarakat Banjar yang hingga kini tetap dilaksanakan oleh keturunan Datu Mahbud di kawasan Banyiur Luar, Kelurahan Basirih, Kecamatan Banjarmasin Barat, Kalimantan Selatan.

Bagi masyarakat luar, Manopeng mungkin tampak seperti pertunjukan seni tradisional yang menampilkan tarian dan topeng-topeng kuno. 

Namun bagi masyarakat pendukungnya, Manopeng merupakan ritual warisan leluhur yang sarat nilai spiritual, doa keselamatan, dan hubungan antara manusia dengan alam gaib yang diyakini masih menyertai kehidupan mereka.

Keunikan inilah yang menjadikan Tari Manopeng dikenal sebagai salah satu tradisi budaya paling mistis di Kalimantan Selatan. Tidak hanya menyimpan nilai sejarah yang panjang, ritual ini juga masih mempertahankan berbagai unsur sakral yang sulit ditemukan pada seni pertunjukan modern.

Sebagai bentuk pengakuan atas nilai budaya dan sejarahnya, Tari Manopeng telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Sejarah Tari Manopeng dan Warisan Datu Mahbud

Sejarah Tari Manopeng tidak dapat dipisahkan dari sosok Datu Mahbud yang dipercaya sebagai pewaris utama tradisi tersebut. Menurut cerita turun-temurun yang hidup di kalangan keluarga zuriat Datu Mahbud, ritual ini telah berlangsung selama kurang lebih 150 tahun dan diwariskan hingga lima generasi.

Beberapa sumber tradisi lisan bahkan menghubungkan akar Manopeng dengan masa Kerajaan Negara Dipa yang pernah berkembang di Kalimantan Selatan. 

Meskipun banyak kisahnya hidup dalam bentuk cerita rakyat, masyarakat pendukung ritual meyakini bahwa tradisi ini telah menjadi bagian dari identitas keluarga mereka selama berabad-abad.

Pada masa awal perkembangannya, Manopeng digunakan sebagai sarana spiritual ketika masyarakat membuka wilayah baru untuk dijadikan permukiman. Ritual tersebut dipercaya mampu memohon perlindungan bagi masyarakat yang akan menempati kawasan baru.

Seiring waktu, fungsi Manopeng berkembang menjadi ritual syukuran panen, sarana mempererat hubungan keluarga besar, media bebersih kampung, hingga ritual tolak bala untuk memohon keselamatan dan menghindarkan masyarakat dari berbagai musibah.

Bagi keluarga pewaris tradisi, Manopeng bukan sekadar kewajiban budaya. Ritual ini dipercaya sebagai amanah leluhur yang harus terus dijaga. 

Terdapat keyakinan turun-temurun bahwa apabila Manopeng tidak dilaksanakan sesuai tradisi tahunan, berbagai gangguan dapat menimpa keluarga pewaris, mulai dari sakit berkepanjangan hingga peristiwa-peristiwa yang sulit dijelaskan secara logis.

Kepercayaan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa ritual ini tetap bertahan hingga sekarang.

Ritual Tahunan yang Hanya Digelar pada Bulan Muharram

Berbeda dengan pertunjukan seni yang dapat diselenggarakan kapan saja, Tari Manopeng hanya dilaksanakan satu kali dalam setahun.

Masyarakat Banjar mengenal waktu pelaksanaannya sebagai "turun bulan", yaitu pada bulan Muharram dalam kalender Islam. Momentum ini dianggap sebagai waktu yang tepat untuk melaksanakan ritual keselamatan sekaligus menghormati para leluhur.

Rangkaian acara biasanya berlangsung selama tiga hari. Prosesi dimulai pada hari Jumat dan berakhir pada Senin pagi, sementara puncak ritual berlangsung pada hari Minggu ketika seluruh topeng utama dimainkan secara bergantian.

Karena hanya dilaksanakan sekali dalam setahun, banyak masyarakat dari berbagai daerah sengaja datang ke Banyiur Luar untuk menyaksikan langsung ritual yang semakin langka ini.

Prosesi Sakral Sebelum Pertunjukan Dimulai

Dalam tradisi Manopeng, pertunjukan tari hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan rangkaian ritual.

Sebelum tarian dimulai, keluarga penyelenggara menyiapkan berbagai sesajen atau piduduk yang terdiri atas aneka makanan tradisional Banjar. Jumlah sajian yang disiapkan dapat mencapai 41 macam wadai Banjar lengkap dengan kopi pahit, kopi manis, santan bercampur gula, dan berbagai pelengkap lainnya.

Prosesi penting lainnya adalah ritual melabuh, yaitu menghanyutkan sebagian sesajen ke Sungai Martapura. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Setelah itu dilaksanakan ritual tampung tawar atau batapung tawar, yaitu memercikkan air doa di sekitar arena pertunjukan sebagai permohonan keselamatan dan perlindungan selama ritual berlangsung.

Ketika musik mulai dimainkan dan asap dupa serta kemenyan memenuhi arena, masyarakat percaya bahwa para leluhur mulai hadir untuk menyaksikan jalannya Manopeng.

Topeng Pusaka yang Menjadi Jiwa Pertunjukan

Unsur paling penting dalam Tari Manopeng adalah keberadaan topeng-topeng pusaka yang diwariskan secara turun-temurun.

Saat ini terdapat sekitar tiga puluh topeng pusaka yang masih tersimpan dan digunakan dalam ritual. Setiap topeng memiliki karakter, fungsi, dan makna simbolis yang berbeda.

Kemunculan Tujuh Bidadari biasanya menjadi pembuka pertunjukan. Sosok ini melambangkan kesucian, keindahan, dan awal perjalanan spiritual dalam ritual Manopeng.

Setelah itu muncul tokoh Panji yang dikenal luas dalam kisah-kisah klasik Nusantara. Topeng Pantul atau Pentul serta Tembam atau Tambam kemudian tampil sebagai tokoh yang berperan sebagai perantara dengan sesajian dan unsur-unsur ritual lainnya.

Berbagai karakter lain turut mengisi pertunjukan, seperti Gunung Sari, Kelana, Patih, Tumenggung, Lambang Sari, Ranggajiwa, Pamambi, Pamimdu, Arjuna, Bima, hingga sosok perempuan tua yang memiliki makna simbolis tersendiri dalam tradisi Banjar.

Namun dari seluruh topeng tersebut, ada satu tokoh yang dianggap paling sakral dan paling ditunggu kemunculannya, yaitu Sangkala.

Sangkala, Raja Topeng dalam Tradisi Manopeng

Sangkala menempati posisi tertinggi dalam hierarki topeng Manopeng. Tokoh ini sering disebut sebagai Raja Topeng dan dalam beberapa tradisi juga dikenal sebagai Batarakala atau Gajah Barung.

Kemunculannya selalu berada di penghujung pertunjukan. Dalam kepercayaan masyarakat pendukung ritual, Sangkala berfungsi membersihkan segala energi negatif yang mungkin hadir selama prosesi berlangsung.

Sangkala dipercaya mampu mengusir penyakit, gangguan gaib, bala, serta berbagai bentuk kesialan yang mengancam kehidupan masyarakat.

Keunikan lainnya terletak pada pemilihan penari Sangkala. Tidak ada proses penunjukan secara resmi. Masyarakat percaya bahwa Sangkala sendiri yang memilih siapa yang akan menjadi medianya.

Karena itulah, tidak jarang seseorang yang awalnya hanya menjadi penonton tiba-tiba mengalami trance atau kesurupan, kemudian mengenakan topeng Sangkala dan menari hingga ritual selesai.

Fenomena inilah yang membuat bagian akhir Manopeng selalu menjadi momen paling dinanti sekaligus paling misterius.

Penari Manopeng dan Tradisi Kesurupan

Berbeda dengan tari tradisional pada umumnya yang mengutamakan latihan teknik dan koreografi, Manopeng memiliki karakter yang sangat berbeda.

Secara tradisional, hanya keturunan atau zuriat Datu Mahbud yang diperbolehkan menjadi penari utama. Mereka dipercaya memiliki hubungan spiritual dengan leluhur yang menjaga ritual tersebut.

Dalam pelaksanaannya, kemampuan menari tidak selalu menjadi syarat utama. Banyak kisah yang menceritakan bahwa seseorang yang sebelumnya tidak pernah belajar menari dapat bergerak dengan lincah dan mengikuti irama musik ketika berada dalam kondisi trance.

Fenomena kesurupan menjadi bagian yang paling sering dibicarakan oleh masyarakat. Saat topeng dikenakan, sebagian penari diyakini memasuki kondisi tidak sadar. Gerakan mereka berubah menjadi lebih spontan, dinamis, dan terkadang di luar kebiasaan sehari-hari.

Dalam beberapa pelaksanaan ritual, penonton juga dilaporkan mengalami kondisi serupa dan ikut menari bersama para penari utama. Menariknya, sebagian besar dari mereka kembali sadar tanpa memerlukan ritual khusus dan tidak mengingat apa yang terjadi selama pertunjukan berlangsung.

Kostum Khas yang Sarat Makna Tradisi

Selain topeng pusaka, Tari Manopeng juga memiliki busana khas yang memperkuat identitas visualnya.

Para penari mengenakan kupluk atau penutup kepala yang dihiasi ornamen menyerupai jamangan dan sumping pada kedua sisi telinga. Bagian tubuh menggunakan baju kurung berlengan pendek dengan warna-warna cerah seperti merah dan kuning yang melambangkan semangat dan kekuatan.

Pada bagian dada terdapat mongkron yang berfungsi sebagai penutup dada hingga pinggang. Busana tersebut dipadukan dengan stagen atau ikat pinggang yang menjadi tempat menyelipkan keris sebagai simbol kehormatan dan perlindungan.

Sebelum digunakan, topeng-topeng pusaka biasanya terlebih dahulu disucikan dengan asap dupa dan kemenyan sebagai bagian dari prosesi ritual.

Kisah Mistis dan Legenda yang Masih Hidup

Sebagai ritual yang telah berlangsung selama lebih dari satu setengah abad, Manopeng tidak lepas dari berbagai cerita mistis yang berkembang di tengah masyarakat.

Salah satu cerita yang paling terkenal adalah keyakinan bahwa tidak semua penonton yang hadir saat ritual berlangsung merupakan manusia. Banyak warga percaya bahwa makhluk gaib juga turut menyaksikan pertunjukan dari tempat-tempat yang tidak dapat dilihat oleh mata biasa.

Ada pula kisah mengenai orang-orang yang menari selama berjam-jam dalam keadaan mata tertutup tanpa menabrak siapa pun. Setelah sadar, mereka mengaku tidak mengingat apa yang telah terjadi.

Cerita lain menyebutkan bahwa beberapa orang yang sebelumnya tidak memiliki kemampuan menari mendadak mampu menampilkan gerakan yang rumit dan teratur ketika memasuki kondisi trance.

Terlepas dari benar atau tidaknya cerita tersebut, kisah-kisah itu menunjukkan betapa kuatnya posisi Tari Manopeng dalam kehidupan budaya masyarakat Banjar.

Tari Manopeng sebagai Warisan Budaya Banjar yang Tetap Hidup

Tari Manopeng merupakan salah satu warisan budaya paling unik di Kalimantan Selatan. Tradisi ini tidak hanya menyatukan unsur seni pertunjukan, tetapi juga sejarah, kepercayaan, ritual leluhur, dan identitas budaya masyarakat Banjar.

Di tengah perubahan zaman, ritual ini tetap hidup dan terus dilaksanakan oleh para pewarisnya di Banyiur Luar. Keberadaannya menjadi bukti bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat modern.

Lebih dari sekadar tarian topeng, Manopeng adalah cerminan hubungan antara manusia, leluhur, alam, dan keyakinan yang telah diwariskan selama berabad-abad. Melalui ritual inilah masyarakat Banjar menjaga ingatan kolektif mereka tentang masa lalu sekaligus mempertahankan salah satu warisan budaya paling sakral yang dimiliki Kalimantan Selatan.

 

Related Posts

Tari Japin Kalimantan Selatan
Tari Baksa Dadap, Tarian Ksatria Banjar
Tari Radap Rahayu
Tari Bagandut Kalimantan Selatan: Sejarah, Makna, dan Fakta Uniknya
Banjar Media Editorial Team

Research and Analyst Team

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *

Pengalaman Anda di situs ini akan ditingkatkan dengan mengizinkan cookie.