Banjar Media - Connecting Banjar to The World Banjar Media - Connecting Banjar to The World

Menjembatani Banjar dengan Dunia

Press ESC to close

Tari Japin Kalimantan Selatan

Jejak Budaya Arab dan Dakwah Islam dalam Gerak yang Memikat

Tari Japin merupakan salah satu kesenian tradisional yang sangat lekat dengan kehidupan masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan. Tarian ini dikenal sebagai tari pergaulan yang menggabungkan unsur hiburan, dakwah Islam, dan budaya Melayu dalam satu pertunjukan yang dinamis. 

Gerakannya yang ritmis, dominasi langkah kaki yang cepat, serta syair-syair bernuansa keagamaan menjadikan Tari Japin berbeda dari banyak tarian tradisional lainnya di Nusantara.

Meski kini telah menjadi bagian dari identitas budaya Kalimantan Selatan, Tari Japin sebenarnya memiliki akar sejarah yang jauh hingga ke Jazirah Arab. Melalui proses akulturasi yang panjang, tarian ini berkembang menjadi kesenian khas Banjar yang tetap mempertahankan nilai-nilai Islam yang dibawanya sejak awal.

Asal Usul Tari Japin dari Tanah Arab

Tari Japin atau Zapin berasal dari budaya Arab, khususnya dari wilayah Yaman yang sejak berabad-abad lalu memiliki hubungan erat dengan dunia Melayu. Dalam beberapa sumber, Zapin bahkan disebut sebagai tarian yang pernah berkembang di lingkungan istana di negeri Parsi sebelum menyebar ke berbagai wilayah Islam.

Nama Zapin diyakini berasal dari kata Arab zafn atau al-zappin yang berarti gerakan kaki yang cepat. Makna tersebut sangat sesuai dengan karakter utama tarian ini yang menonjolkan permainan langkah kaki yang lincah dan ritmis.

Penyebaran Zapin ke Nusantara terjadi melalui para ulama, pedagang, dan pendakwah Arab yang datang ke wilayah Melayu melalui jalur perdagangan India dan Selat Malaka. 

Dari sana, kesenian ini berkembang luas di Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, hingga Betawi di Jakarta.

Dalam tradisi lisan masyarakat Melayu, terdapat kisah yang mengaitkan asal-usul gerakan Zapin dengan peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. 

Ketika Islam mulai berkembang, para sahabat disebut mengekspresikan kegembiraan mereka melalui gerakan kaki yang berirama sebagai bentuk rasa syukur atas kebangkitan agama Allah. Kisah inilah yang kemudian sering dikaitkan dengan nilai-nilai spiritual dalam Tari Japin.

Dari Media Dakwah Menjadi Tari Pergaulan

Pada masa awal perkembangannya, Zapin bukan sekadar hiburan. Tarian ini digunakan sebagai sarana dakwah Islam untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan kepada masyarakat. Karena itu, syair-syair yang mengiringinya umumnya berisi nasihat moral, ajaran agama, pujian kepada Allah SWT, serta teladan kehidupan Rasulullah SAW.

Seiring waktu, Tari Japin berkembang menjadi tari pergaulan yang dapat dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat. Tarian ini sering ditampilkan dalam pesta rakyat, perayaan adat, acara keluarga, festival budaya, hingga kegiatan keagamaan.

Meski fungsi hiburannya semakin menonjol, unsur dakwah tetap dipertahankan melalui syair-syair yang sarat pesan moral dan nilai-nilai Islam.

Tari Japin di Kalimantan Selatan

Di Kalimantan Selatan, Tari Japin berkembang menjadi bentuk kesenian yang memiliki karakter tersendiri. Masyarakat Banjar mengenalnya sebagai bagian penting dari budaya lokal, bahkan salah satu variannya yang terkenal adalah Zapin Kuala.

Berbeda dengan beberapa daerah Melayu lainnya, Tari Japin Banjar memiliki ciri khas berupa penggunaan gong sebagai pengiring utama serta kehadiran penyair yang membawakan syair-syair bernuansa agama selama pertunjukan berlangsung.

Kombinasi antara gerak tari, irama musik, dan lantunan syair menciptakan suasana yang khas. Penonton tidak hanya menikmati keindahan gerakan para penari, tetapi juga memperoleh pesan-pesan kehidupan yang disampaikan melalui syair.

Karena itulah Tari Japin di Kalimantan Selatan sering dianggap sebagai perpaduan harmonis antara seni pertunjukan dan pendidikan keagamaan.

Karakteristik Gerakan Tari Japin

Ciri paling menonjol dari Tari Japin adalah dominasi gerakan kaki yang cepat dan berirama. Hal ini sesuai dengan asal kata zafn yang memang merujuk pada pergerakan kaki.

Gerakan dalam Tari Japin tidak terlalu menekankan pola koreografi yang kaku. Sebaliknya, tarian ini dikenal memiliki lenggak-lenggok yang mengalir dan ritmis sehingga memberikan kebebasan tertentu kepada penari untuk mengekspresikan diri sesuai irama musik.

Meski demikian, Tari Japin Kalimantan Selatan memiliki sejumlah ragam gerak yang menjadi ciri khasnya. Di antaranya adalah Sisit, Siksak, Tahtul, Matjus, Langkah Lima, Susun Sirih, Goyang Bahu, Siuk, dan Buang Anak. 

Selain itu terdapat pula variasi gerakan seperti langkah maju, gerak memutar, serta geseran ke samping yang memperkaya dinamika pertunjukan.

Makna Filosofis Sembilan Ragam Gerak Japin Kalsel

Di balik kesederhanaan geraknya, setiap ragam gerak Tari Japin mengandung filosofi yang berkaitan erat dengan ajaran Islam.

Gerakan Sisit sebagai gerakan dasar melambangkan keikhlasan dan ketaatan dalam mengikuti tuntunan agama. Sementara itu, Siksak yang bergerak zig-zag sering dimaknai sebagai simbol perjalanan hijrah Rasulullah SAW menuju Madinah yang penuh tantangan dan perjuangan.

Gerakan Tahtul menggambarkan sikap tunduk dan hormat kepada Tuhan. Matjus yang dilakukan dengan langkah maju melambangkan keberanian dalam menyampaikan dakwah serta semangat untuk terus bergerak menuju kebaikan.

Salah satu gerakan yang paling sarat makna adalah Langkah Lima. Lima langkah dalam gerakan ini sering ditafsirkan sebagai simbol lima rukun Islam atau lima waktu salat yang menjadi fondasi kehidupan seorang Muslim.

Gerakan Susun Sirih melambangkan keteraturan zikir dan doa. Goyang Bahu menggambarkan kekompakan umat Islam dalam menjalin persaudaraan dan silaturahmi. Gerakan Siuk mencerminkan keramahan dalam menyambut tamu sesuai ajaran akhlak Islam. 

Sementara Buang Anak dimaknai sebagai simbol melepaskan sifat buruk, dosa, dan perilaku yang tidak baik.

Keseluruhan rangkaian gerak tersebut menjadikan Tari Japin bukan sekadar pertunjukan hiburan, melainkan sarana penyampaian nilai-nilai kehidupan yang berakar pada ajaran Islam.

Nilai-Nilai Islam dalam Tari Japin

Tari Japin dikenal sebagai tarian yang bernafaskan Islam. Hampir seluruh unsur di dalamnya mengandung nilai religius, baik melalui gerakan maupun syair yang dibawakan.

Nilai ketaatan kepada Tuhan tercermin dalam gerakan-gerakan seperti Alif dan Tahto yang juga dikenal dalam tradisi Zapin Melayu. Nilai persaudaraan dan kekerabatan tergambar melalui gerakan langkah yang dilakukan secara harmonis bersama pasangan atau kelompok penari.

Selain itu terdapat nilai ketabahan, keikhlasan, kerja keras, gotong royong, serta penghormatan kepada sesama manusia. Semua nilai tersebut disampaikan secara halus melalui bahasa seni sehingga mudah diterima oleh masyarakat.

Karena itulah Tari Japin sejak dahulu sering digunakan sebagai media dakwah yang efektif, terutama di lingkungan masyarakat Melayu dan pesantren.

Musik Pengiring yang Khas

Musik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Tari Japin. Di berbagai daerah Melayu, Zapin umumnya diiringi alat musik gambus dan marwas yang berasal dari tradisi Arab.

Namun di Kalimantan Selatan, Tari Japin memiliki kekhasan tersendiri. Selain menggunakan instrumen tradisional, pertunjukan sering diiringi gong dan lantunan syair yang dibawakan oleh penyair. Syair tersebut biasanya berisi ajaran agama, nasihat moral, serta pesan-pesan kehidupan.

Irama yang digunakan cenderung mengikuti pola ritmis yang selaras dengan langkah kaki penari sehingga menciptakan pertunjukan yang hidup dan penuh energi.

Kostum Penari Tari Japin

Busana yang digunakan dalam Tari Japin mencerminkan perpaduan budaya Melayu dan pengaruh Islam.

Penari pria biasanya mengenakan kopiah sebagai penutup kepala, dipadukan dengan baju kampret, celana batik, sarung, dan selendang. Penampilan ini memberikan kesan sederhana namun tetap berwibawa.

Sementara itu, penari wanita mengenakan baju kurung yang menjadi salah satu ikon busana Melayu. Busana tersebut dipadukan dengan kain sarung dan hiasan kepala berupa mahkota yang dihiasi bulu.

Warna-warna yang digunakan umumnya cerah dan mencolok, seperti merah, kuning, hijau, dan biru. Pemilihan warna tersebut membuat pertunjukan terlihat meriah sekaligus mencerminkan semangat dan kegembiraan masyarakat Melayu.

Perbedaan Tari Japin Kalsel dengan Zapin Melayu Riau

Meski berasal dari akar budaya yang sama, Tari Japin Kalimantan Selatan memiliki sejumlah perbedaan dibandingkan Zapin yang berkembang di Riau dan wilayah Melayu lainnya.

Perbedaan paling menonjol terletak pada ragam geraknya. Japin Kalsel memiliki sembilan ragam gerak khas, yaitu Sisit, Siksak, Tahtul, Matjus, Langkah Lima, Susun Sirih, Goyang Bahu, Siuk, dan Buang Anak. Ragam gerak ini tidak ditemukan secara lengkap dalam Zapin Melayu Riau.

Dari sisi musik, Japin Kalsel dikenal menggunakan gong dan syair yang dibawakan penyair, sedangkan Zapin Riau lebih identik dengan gambus dan marwas sebagai pengiring utama.

Dalam aspek filosofis, Japin Banjar banyak menonjolkan simbol-simbol yang dikaitkan dengan dakwah Islam seperti hijrah, lima rukun Islam, zikir, serta pembinaan akhlak. Sementara Zapin Melayu Riau lebih banyak menekankan nilai kesopanan, keteguhan hati, kesabaran, dan hubungan sosial dalam masyarakat Melayu.

Meski memiliki perbedaan, keduanya tetap menunjukkan akar budaya yang sama sebagai warisan peradaban Islam dan Melayu.

Warisan Budaya yang Tetap Hidup

Hingga kini Tari Japin masih menjadi salah satu kesenian yang paling dikenal di Kalimantan Selatan. Tarian ini tidak hanya hadir dalam acara budaya dan festival, tetapi juga menjadi simbol identitas masyarakat Banjar yang mencerminkan perpaduan harmonis antara seni, agama, dan tradisi.

Sebagai hasil akulturasi budaya Arab dan Melayu, Tari Japin menunjukkan bagaimana sebuah kesenian dapat berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan akar sejarahnya. 

Di balik langkah kaki yang cepat dan gerakan yang ritmis, tersimpan pesan tentang ketaatan kepada Tuhan, pentingnya silaturahmi, semangat dakwah, serta nilai-nilai kehidupan yang tetap relevan hingga sekarang.

Itulah sebabnya Tari Japin bukan sekadar tari pergaulan, melainkan salah satu warisan budaya Islam-Melayu yang terus hidup dan menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan.

 

Related Posts

Tari Baksa Dadap, Tarian Ksatria Banjar
Tari Manopeng Banjarmasin, Ritual Topeng Sakral Banjar yang Penuh Misteri
Tari Radap Rahayu
Tari Bagandut Kalimantan Selatan: Sejarah, Makna, dan Fakta Uniknya
Banjar Media Editorial Team

Research and Analyst Team

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *

Pengalaman Anda di situs ini akan ditingkatkan dengan mengizinkan cookie.