Tarian Banjar yang Mengharuskan Penarinya Menguasai Silat
Tari Bagandut merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Banjar yang pernah sangat populer di Banjarmasin dan berbagai wilayah Kalimantan Selatan. Tarian ini tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga menyimpan kisah panjang tentang kehidupan sosial, pergaulan muda-mudi, hingga tradisi pertunjukan yang berkembang sejak masa Kesultanan Banjar. Di balik gerakannya yang lincah dan interaktif, Tari Bagandut memiliki sejarah, aturan, serta nilai budaya yang menjadikannya berbeda dari tarian tradisional lainnya di Nusantara.
Tari Bagandut, Tarian Pergaulan Khas Banjar yang Hampir Punah
Dalam khazanah budaya Banjar, Tari Bagandut dikenal sebagai tarian berpasangan yang dimainkan oleh penari laki-laki dan perempuan. Tarian ini menggambarkan suasana pergaulan yang akrab, penuh canda, serta interaksi antara dua insan yang saling merespons melalui gerakan tari.
Nama "Bagandut" berasal dari kata "gandut", sebutan untuk penari perempuan dalam pertunjukan tersebut. Sementara pasangan laki-lakinya disebut "bagandut". Dalam pertunjukan tradisional, keduanya tampil berpasangan dan saling berinteraksi mengikuti irama musik Banjar yang khas.
Keunikan Tari Bagandut terletak pada sifatnya yang improvisatif. Tidak semua gerakan diatur secara kaku. Penari diberi ruang untuk berkreasi dan menyesuaikan gerakan dengan suasana pertunjukan, irama musik, serta respons pasangan menarinya.
Sejarah Tari Bagandut dari Lingkungan Istana hingga Masyarakat Umum
Sejarah Tari Bagandut diperkirakan berkembang sejak abad ke-19. Pada masa awal kemunculannya, tarian ini menjadi bagian dari hiburan di lingkungan kerajaan atau istana Banjar. Keberadaannya cukup dikenal hingga sekitar tahun 1860-an.
Seiring waktu, seni pertunjukan ini mulai keluar dari lingkungan bangsawan dan menyebar ke berbagai wilayah kerajaan. Dari istana, Tari Bagandut kemudian berkembang di kampung-kampung dan menjadi hiburan masyarakat umum.
Beberapa daerah yang dikenal sebagai pusat perkembangan Tari Bagandut antara lain Rantau di Kabupaten Tapin, Margasari, Pabaungan, Pandahan, Parigi, Tatakan, hingga berbagai wilayah lain di Kalimantan Selatan. Kota Rantau bahkan dikenal sebagai salah satu daerah yang masih menyimpan jejak kuat tradisi Bagandut hingga sekarang.
Ketika telah menjadi kesenian rakyat, Tari Bagandut sering ditampilkan pada malam pernikahan, pesta panen, hajatan keluarga, perayaan kampung, hingga kegiatan pengumpulan dana masyarakat. Kehadirannya menjadi sarana hiburan yang mampu menarik perhatian banyak orang.
Makna dan Karakter Tari Bagandut
Secara umum, Tari Bagandut menggambarkan hubungan sosial dan pergaulan antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Banjar. Interaksi kedua penari menjadi inti dari pertunjukan.
Penari laki-laki biasanya melakukan gerakan yang disebut "menghaluki", yaitu gerakan mengejar atau mendekati penari perempuan secara simbolis. Sementara itu, penari perempuan merespons dengan berbagai gerakan anggun, lincah, dan ekspresif.
Dalam sejarahnya, karakter penari perempuan atau gandut sering dibandingkan dengan penari tayub di Jawa maupun ronggeng di Sumatra. Hal ini karena pertunjukan Bagandut juga menonjolkan unsur hiburan rakyat yang melibatkan interaksi langsung antara penari dan penonton.
Meski demikian, Tari Bagandut bukan sekadar pertunjukan yang menonjolkan keindahan gerak. Tarian ini juga menunjukkan kemampuan seni, kecerdasan sosial, serta ketangkasan para penarinya dalam menghadapi berbagai situasi selama pertunjukan berlangsung.
Mengapa Penari Gandut Harus Menguasai Ilmu Bela Diri?
Salah satu fakta paling menarik dalam tradisi Tari Bagandut adalah kewajiban bagi penari gandut untuk menguasai ilmu bela diri, terutama silat Banjar.
Tradisi ini muncul karena pertunjukan Bagandut pada masa lalu berlangsung secara terbuka dan melibatkan interaksi yang sangat dekat dengan penonton. Tidak jarang terdapat penonton yang bertindak usil atau berusaha mendekati penari secara berlebihan.
Kemampuan silat menjadi bentuk perlindungan diri bagi para penari perempuan. Dengan bekal bela diri, mereka dapat menjaga keselamatan serta menghindari tindakan yang tidak diinginkan selama pertunjukan berlangsung.
Selain silat, dalam tradisi lama juga dikenal keyakinan bahwa seorang gandut harus memahami berbagai mantra dan ilmu tertentu. Masyarakat pada masa itu percaya bahwa penari sering menjadi sasaran pengaruh ilmu gaib atau upaya pemikat dari pihak-pihak tertentu yang tertarik kepada mereka.
Karena itu, seorang gandut tidak hanya dituntut cantik dan pandai menari. Ia juga harus memiliki ketahanan mental, keberanian, kemampuan bela diri, serta pengetahuan tradisional yang dianggap mampu melindungi dirinya.
Empat Jenis Tari Bagandut yang Pernah Berkembang
Dalam perkembangannya, Tari Bagandut memiliki beberapa variasi yang dibedakan berdasarkan lagu pengiring dan karakter gerakannya.
Bagandut Mandung-Mandung
Jenis ini menggunakan lagu Mandung-Mandung sebagai pengiring utama. Gerakannya menampilkan interaksi yang cukup dinamis antara penari laki-laki dan perempuan. Dalam beberapa bagian terdapat gerakan simbolis berupa pukulan ke arah atas, tengah, dan bawah yang dilakukan sebagai bagian dari koreografi.
Bagandut Mangandangan
Bagandut Mangandangan menggunakan lagu Mangandangan. Pada jenis ini, penari laki-laki lebih banyak melakukan gerakan menghalau atau mengikuti arah gerak penari perempuan. Oleh karena itu, kemampuan menari dan penguasaan silat menjadi sangat penting.
Bagandut Karuncungan
Jenis ini diiringi lagu Karuncungan atau Stambulan. Gerakannya lebih sederhana dan menonjolkan pola bergandengan tangan sambil bergerak ke kiri, kanan, depan, dan belakang. Banyak pihak menilai pola geraknya menyerupai tarian sosial modern karena menekankan kerja sama pasangan.
Bagandut Manunggul
Bagandut Manunggul memiliki konsep yang unik. Dalam pertunjukan ini, penari laki-laki duduk sambil bersembunyi di dalam sarung, sedangkan penari perempuan berusaha menggoda atau mengajak pasangannya keluar dari sarung melalui gerakan tari yang atraktif.
Ragam Gerakan yang Menjadi Ciri Khas Tari Bagandut
Tari Bagandut memiliki sejumlah ragam gerak tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.
Pada penari laki-laki dikenal gerakan seperti Step Empat, Kijik, Gerak Hambat, Gerak Pukul, Hayam Ma'alas, serta Garah. Gerakan-gerakan tersebut menunjukkan karakter yang aktif dan agresif dalam mendekati pasangan tari.
Sementara itu, penari perempuan menampilkan gerakan yang lebih bervariasi seperti Kambang, Limbai, Kibas, Tangkis, Step Dua, Step Empat, dan Kijik. Gerakan tersebut menghasilkan kesan anggun, luwes, tetapi tetap tangkas saat merespons pasangan.
Perpaduan kedua karakter gerak inilah yang menciptakan dinamika khas Tari Bagandut dan membuat pertunjukannya terasa hidup.
Musik Pengiring yang Menghidupkan Suasana Pertunjukan
Keindahan Tari Bagandut tidak dapat dipisahkan dari iringan musik tradisional Banjar. Alat musik yang digunakan biasanya terdiri atas babun, gong, biola Banjar, kendang, dan suling.
Setiap jenis lagu menghadirkan suasana yang berbeda. Lagu Mandung-Mandung, Mangandangan, dan Karuncungan tidak hanya berfungsi sebagai pengiring, tetapi juga menentukan tempo, ritme, dan karakter gerakan yang dimainkan penari.
Perpaduan bunyi biola Banjar dengan dentuman babun dan gong menciptakan suasana meriah yang menjadi ciri khas pertunjukan Bagandut.
Busana Penari yang Mencerminkan Identitas Banjar
Penari perempuan biasanya mengenakan baju kurung atau kebaya sederhana yang dipadukan dengan kain sasirangan atau sarung Banjar. Penampilan mereka dilengkapi selendang, mahkota, anting, gelang, kalung, serta cincin.
Sementara itu, penari laki-laki menggunakan baju lengan panjang atau baju koko yang dipadukan dengan celana panjang longgar. Di kepala dikenakan laung, yaitu ikat kepala tradisional Banjar, atau peci sebagai pelengkap busana.
Kostum tersebut memperlihatkan identitas budaya Banjar yang kuat dan menjadi bagian penting dari estetika pertunjukan.
Tradisi Unik dalam Pertunjukan Tari Bagandut
Dalam tradisi lama, pertunjukan Bagandut diawali dengan penari laki-laki mengajak penari perempuan untuk menari bersama. Ajakan tersebut biasanya disertai pemberian sejumlah uang sebagai bentuk penghormatan.
Setelah itu, pasangan penari bergerak mengikuti irama musik sambil berputar-putar di arena pertunjukan. Interaksi yang terjadi menjadi daya tarik utama bagi para penonton.
Pada beberapa kesempatan, penonton juga dapat ikut menari. Mereka biasanya memberikan uang ke dalam sasanggan sebagai bentuk partisipasi dan dukungan terhadap penyelenggaraan pertunjukan.
Tradisi ini menunjukkan bahwa Tari Bagandut bukan hanya tontonan, melainkan juga sarana interaksi sosial dalam kehidupan masyarakat Banjar.
Kondisi Tari Bagandut Saat Ini
Meskipun pernah menjadi hiburan yang sangat populer, Tari Bagandut kini termasuk salah satu kesenian tradisional yang keberadaannya semakin jarang ditemukan. Perubahan zaman, munculnya hiburan modern, serta berkurangnya jumlah pelaku seni membuat pertunjukan ini tidak lagi sesering dahulu.
Saat ini Tari Bagandut lebih banyak ditampilkan dalam kegiatan pelestarian budaya, festival seni daerah, maupun acara yang bertujuan memperkenalkan kembali warisan budaya Banjar kepada generasi muda.
Di beberapa daerah seperti Rantau masih terdapat seniman dan penari muda yang berupaya mempelajari serta mewarisi tradisi Bagandut, terutama varian Bagandut Mandung-Mandung yang dianggap sebagai salah satu bentuk paling autentik.
Warisan Budaya Banjar yang Patut Dilestarikan
Tari Bagandut merupakan bukti kekayaan budaya masyarakat Banjar yang lahir dari perpaduan seni tari, musik, tradisi sosial, dan nilai-nilai kehidupan masyarakat masa lalu. Di dalamnya tersimpan kisah tentang pergaulan, hiburan rakyat, keterampilan bela diri, hingga tradisi pertunjukan yang berkembang selama ratusan tahun.
Sebagai salah satu identitas budaya Kalimantan Selatan, Tari Bagandut memiliki nilai sejarah dan seni yang tinggi. Pelestarian tarian ini bukan hanya penting bagi masyarakat Banjar, tetapi juga bagi keberagaman budaya Indonesia agar warisan leluhur tersebut tetap dikenal dan tidak hilang ditelan zaman.