Tradisi Lampu Hias yang Menjadi Ikon Wisata Sungai
Banjarmasin dikenal sebagai Kota Seribu Sungai, sebuah kota yang tumbuh dan berkembang bersama aliran sungai yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Banjar. Dari sekian banyak tradisi yang hidup di kota ini, Festival Tanglong dan Festival Jukung Hias menjadi dua perayaan budaya yang paling menarik perhatian masyarakat maupun wisatawan.
Keduanya menampilkan keindahan lampu hias yang berkilauan pada malam hari, namun memiliki bentuk penyajian yang berbeda dan saling berkaitan erat dalam perjalanan sejarah budaya Banjar.
Banyak orang bertanya apakah Festival Jukung Hias dan Festival Tanglong merupakan acara yang berbeda atau sebenarnya merupakan satu festival yang sama. Pertanyaan tersebut muncul karena keduanya sama-sama menggunakan unsur tanglong atau lampu hias sebagai elemen utama.
Untuk memahami hubungan keduanya, perlu melihat sejarah dan perkembangan tradisi ini dari masa ke masa.
Mengenal Festival Tanglong dalam Tradisi Masyarakat Banjar
Festival Tanglong berawal dari tradisi masyarakat Banjar yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Kata “tanglong” merujuk pada lampu hias yang dibuat dari berbagai bahan dan dibentuk menjadi ornamen menarik.
Pada masa lalu, masyarakat membuat tanglong secara gotong royong untuk memeriahkan malam-malam tertentu dalam kalender Islam, terutama menjelang akhir bulan Ramadan.
Tradisi ini memiliki makna religius dan sosial yang kuat. Lampu-lampu yang menyala menjadi simbol kegembiraan masyarakat dalam menyambut malam-malam istimewa, termasuk malam Lailatul Qadar dan Hari Raya Idul Fitri.
Pada perkembangannya, tanglong tidak hanya dipasang di rumah-rumah warga, tetapi juga dibawa dalam arak-arakan keliling kampung menggunakan gerobak, becak, sepeda, hingga kendaraan bermotor.
Suasana malam yang dipenuhi cahaya warna-warni menjadikan Festival Tanglong sebagai salah satu tradisi yang paling dinantikan masyarakat. Selain menjadi sarana hiburan, festival ini juga mempererat hubungan sosial antarwarga melalui kegiatan pembuatan dan pawai tanglong secara bersama-sama.
Transformasi Menjadi Festival Jukung Hias Tanglong
Seiring berkembangnya sektor pariwisata dan upaya pelestarian budaya lokal, Pemerintah Kota Banjarmasin melakukan inovasi terhadap tradisi tanglong. Bentuk arak-arakan yang sebelumnya berlangsung di darat kemudian dikembangkan menjadi parade di atas sungai dengan memanfaatkan jukung dan kelotok sebagai media utama.
Dari sinilah lahir Festival Jukung Hias Tanglong, sebuah festival yang menggabungkan tradisi lampu tanglong dengan identitas sungai yang melekat pada Kota Banjarmasin.
Jika pada Festival Tanglong tradisional lampu dipasang pada kendaraan darat, maka pada Festival Jukung Hias lampu-lampu tersebut dipasang pada perahu tradisional yang berlayar menyusuri Sungai Martapura.
Karena itu, Festival Jukung Hias bukanlah festival yang terpisah dari Festival Tanglong. Keduanya memiliki akar budaya yang sama. Perbedaannya hanya terletak pada media yang digunakan.
Tanglong tetap menjadi unsur utama berupa lampu hias, sedangkan jukung berfungsi sebagai sarana atau kendaraan yang membawa dekorasi tersebut di atas air.
Dengan kata lain, Festival Jukung Hias dapat dipahami sebagai bentuk modern dan pengembangan dari Festival Tanglong yang disesuaikan dengan karakter Kota Banjarmasin sebagai kota sungai.
Apakah Festival Jukung Hias dan Festival Tanglong Dilaksanakan Bersamaan?
Dalam penyelenggaraan modernnya, kedua istilah tersebut pada dasarnya merujuk pada satu rangkaian kegiatan yang sama. Nama resmi yang digunakan pemerintah adalah Festival Jukung Hias Tanglong.
Oleh karena itu, masyarakat sering menyebutnya sebagai Festival Tanglong, sementara dalam publikasi resmi sering digunakan istilah Festival Jukung Hias Tanglong.
Festival ini tidak lagi identik dengan perayaan Ramadan seperti pada masa lalu. Saat ini penyelenggaraannya lebih banyak dikaitkan dengan peringatan Hari Jadi Kota Banjarmasin. Pada tahun 2025 misalnya, festival digelar pada 23 hingga 24 September sebagai bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-499 Kota Banjarmasin.
Perubahan waktu pelaksanaan ini menunjukkan bagaimana tradisi lama berhasil beradaptasi dengan kebutuhan promosi pariwisata dan agenda budaya daerah tanpa kehilangan identitas aslinya.
Lokasi Festival di Jantung Kota Banjarmasin
Festival Jukung Hias Tanglong dipusatkan di kawasan Sungai Martapura yang merupakan ikon utama Kota Banjarmasin. Titik utama kegiatan berada di kawasan Siring Menara Pandang yang juga dikenal sebagai Titik Nol Kilometer Banjarmasin.
Lokasi ini dipilih karena memiliki akses yang mudah bagi masyarakat dan wisatawan. Dari kawasan siring, pengunjung dapat menyaksikan secara langsung iring-iringan jukung dan kelotok yang dihiasi lampu warna-warni menyusuri sungai pada malam hari.
Sungai Martapura sendiri menjadi panggung alami yang sangat spektakuler. Pantulan cahaya lampu tanglong di permukaan air menciptakan suasana yang berbeda dibandingkan festival lampu pada umumnya.
Pemandangan inilah yang menjadikan Festival Jukung Hias sebagai salah satu atraksi budaya paling fotogenik di Kalimantan Selatan.
Keindahan Dekorasi dan Kreativitas Peserta
Salah satu daya tarik utama festival ini adalah kreativitas para peserta dalam menghias perahu mereka. Berbagai tema budaya, sejarah, kesenian, hingga pembangunan daerah ditampilkan melalui dekorasi yang rumit dan penuh warna.
Lampu tanglong menjadi elemen dominan yang menghiasi seluruh bagian perahu. Selain itu, peserta sering menambahkan ornamen khas Banjar seperti motif Sasirangan, miniatur rumah adat, tokoh legenda daerah, alat musik panting, hingga representasi tarian tradisional.
Tidak jarang pula muncul dekorasi bergerak yang dibuat menggunakan rangka khusus sehingga menciptakan efek visual yang menarik ketika perahu berlayar di sungai. Kombinasi cahaya, gerakan, dan refleksi air menghasilkan pertunjukan malam yang memukau bagi para penonton.
Festival Budaya yang Menjadi Ikon Pariwisata Banjarmasin
Saat ini Festival Jukung Hias Tanglong telah berkembang menjadi salah satu agenda wisata budaya unggulan Kalimantan Selatan. Festival ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi sarana pelestarian tradisi sungai, penguatan identitas budaya Banjar, serta promosi sektor ekonomi kreatif daerah.
Keberadaan festival ini menunjukkan bagaimana tradisi lama dapat terus hidup melalui inovasi yang relevan dengan perkembangan zaman. Tanglong yang dahulu hanya berkeliling kampung kini tampil megah di atas Sungai Martapura, menghadirkan perpaduan antara warisan budaya dan pariwisata modern.
Karena itulah, ketika membahas Festival Tanglong dan Festival Jukung Hias, keduanya tidak dapat dipisahkan. Festival Jukung Hias merupakan kelanjutan sekaligus evolusi dari tradisi Tanglong yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Banjar.
Melalui festival ini, cahaya tanglong tidak hanya menerangi malam, tetapi juga menjadi simbol semangat masyarakat Banjarmasin dalam menjaga dan memperkenalkan budayanya kepada dunia.