Banjar Media - Connecting Banjar to The World Banjar Media - Connecting Banjar to The World

Menjembatani Banjar dengan Dunia

Press ESC to close

Festival Tanglong

Cahaya Ramadhan yang Menjadi Warisan Budaya Banjar

Di tengah semarak bulan suci Ramadhan, masyarakat Banjar memiliki sebuah tradisi yang begitu khas dan sarat makna, yaitu Festival Tanglong. Bagi masyarakat Kalimantan Selatan, festival ini bukan sekadar pawai lampu hias atau pertunjukan visual yang memukau. 

Festival Tanglong merupakan simbol kebersamaan, spiritualitas, dan kecintaan terhadap warisan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Kata “tanglong” dalam bahasa Banjar merujuk pada lampu hias atau lentera yang dibuat dari berbagai bahan sederhana seperti bambu, rotan, kertas, maupun kain. Ketika malam tiba, tanglong-tanglong tersebut menyala dengan cahaya yang indah, menciptakan suasana religius yang hangat dan penuh harapan. 

Cahaya yang terpancar bukan hanya menerangi jalan, tetapi juga menjadi simbol penerangan hati dalam menyambut keberkahan Ramadhan.

Seiring perkembangan zaman, Festival Tanglong tidak hanya hadir dalam bentuk arak-arakan lentera di daratan. Di Kota Banjarmasin yang dikenal sebagai Kota Seribu Sungai, tradisi ini berkembang menjadi pawai jukung hias yang memanfaatkan sungai sebagai panggung utama. 

Perahu-perahu tradisional Banjar dihias dengan gemerlap cahaya dan aneka dekorasi budaya, menciptakan pemandangan yang spektakuler di atas aliran Sungai Martapura.

Jejak Sejarah dari Tradisi Badadamaran

Festival Tanglong memiliki akar sejarah yang panjang dalam kehidupan masyarakat Banjar. Sebelum dikenal dengan nama Tanglong, tradisi ini dahulu disebut Badadamaran. Nama tersebut berasal dari penggunaan damar, yaitu getah pohon yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar pelita tradisional.

Pada masa lalu, ketika listrik belum menjangkau banyak wilayah, masyarakat menggunakan pelita damar sebagai sumber penerangan. Menjelang malam-malam istimewa di bulan Ramadhan, pelita-pelita tersebut dinyalakan dan dibawa berkeliling kampung. 

Cahaya yang berderet di sepanjang jalan menciptakan suasana yang sakral sekaligus meriah.

Tradisi ini juga erat kaitannya dengan budaya Bagarakan Sahur, yaitu kebiasaan membangunkan warga untuk makan sahur melalui arak-arakan dan kegiatan bersama. Dari sinilah berkembang kebiasaan menghias lampu dan membawa lentera sebagai bagian dari perayaan Ramadhan.

Ketika ketersediaan damar semakin berkurang, masyarakat mulai beralih menggunakan pelita berbahan minyak tanah dengan sumbu kain. Kemudian, memasuki era modern, lampu listrik dan teknologi LED menggantikan fungsi pelita tradisional. 

Meski sumber cahayanya berubah, semangat dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya tetap terjaga hingga sekarang.

Makna Spiritual yang Mendalam

Salah satu hal yang membuat Festival Tanglong berbeda dari festival lentera pada umumnya adalah muatan religius yang sangat kuat. 

Tradisi ini berkaitan erat dengan penghormatan terhadap malam-malam istimewa di bulan Ramadhan, terutama malam Nuzulul Qur'an, malam-malam ganjil yang diyakini sebagai waktu turunnya Lailatul Qadar, hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Bagi masyarakat Banjar, cahaya tanglong melambangkan harapan akan datangnya petunjuk dan keberkahan dari Allah SWT. Lentera yang menyala menjadi simbol perjalanan manusia menuju cahaya kebaikan dan ketakwaan.

Suasana festival biasanya dipenuhi nuansa religius yang terasa kental. Masyarakat berkumpul, saling berinteraksi, dan menikmati keindahan cahaya sambil tetap menjaga nilai-nilai keislaman yang menjadi fondasi tradisi ini. 

Inilah sebabnya Festival Tanglong tidak hanya dipandang sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bentuk ekspresi spiritual dan budaya yang hidup dalam masyarakat.

Transformasi Menjadi Festival Wisata Budaya

Dalam perkembangannya, Festival Tanglong mengalami transformasi yang menarik. Jika dahulu hanya berupa arak-arakan lampu sederhana di lingkungan kampung, kini festival tersebut telah menjadi salah satu agenda budaya dan pariwisata yang penting di Kalimantan Selatan.

Banjarmasin menjadi salah satu daerah yang berhasil mengangkat tradisi ini ke tingkat yang lebih luas melalui Festival Jukung Hias Tanglong. Sungai Martapura yang membelah kota berubah menjadi panggung raksasa tempat perahu-perahu tradisional berlayar dengan dekorasi megah dan lampu warna-warni.

Keunikan festival ini terletak pada perpaduan antara budaya sungai dan tradisi Islam Banjar. Cahaya yang memantul di permukaan air menciptakan panorama malam yang sangat memikat. 

Ribuan pasang mata biasanya menyaksikan bagaimana jukung dan kelotok berhias melintas perlahan, membawa berbagai tema budaya dan religius.

Transformasi ini menunjukkan bahwa tradisi lokal mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas aslinya.

Keindahan Karya Seni dalam Setiap Tanglong

Salah satu daya tarik utama Festival Tanglong adalah kreativitas yang dituangkan dalam setiap karya. Tanglong modern tidak lagi berbentuk lentera sederhana, melainkan telah berkembang menjadi instalasi seni yang penuh detail.

Kerangka tanglong umumnya dibuat dari bambu atau rotan yang dirangkai dengan teliti. Bagian luar kemudian dilapisi kertas berwarna atau kain yang dihias sedemikian rupa sehingga membentuk berbagai motif dan bentuk yang menarik.

Tidak jarang muncul miniatur masjid, kaligrafi Islam, ornamen khas Banjar, hingga motif sasirangan yang menjadi identitas budaya Kalimantan Selatan. Pada festival jukung hias, dekorasi bahkan dapat menampilkan patung bergerak, pencahayaan dinamis, dan efek visual yang memukau.

Karya-karya tersebut mencerminkan kemampuan para seniman lokal dalam menggabungkan unsur tradisional dan modern. Setiap tanglong menjadi media ekspresi yang memperlihatkan kekayaan kreativitas masyarakat Banjar.

Menjadi Penggerak Ekonomi Kreatif

Selain memiliki nilai budaya dan spiritual, Festival Tanglong juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Persiapan festival melibatkan banyak pihak, mulai dari perajin bambu, pembuat dekorasi, seniman, hingga pelaku usaha kecil yang menyediakan berbagai kebutuhan pendukung.

Proses pembuatan tanglong dan jukung hias membutuhkan keterampilan khusus yang membuka peluang kerja bagi masyarakat. Banyak seniman lokal memperoleh penghasilan dari jasa desain, pembuatan dekorasi, maupun penyewaan perlengkapan festival.

Di sisi lain, kehadiran wisatawan yang datang untuk menyaksikan festival turut menggerakkan sektor ekonomi lainnya. Kuliner khas Banjar, kerajinan tangan, serta berbagai produk lokal mendapatkan kesempatan untuk dikenal lebih luas oleh para pengunjung.

Dengan demikian, Festival Tanglong tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi kreatif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Daya Tarik Wisata yang Mendunia

Dalam beberapa tahun terakhir, Festival Tanglong semakin dikenal sebagai salah satu ikon wisata budaya Kalimantan Selatan. Keunikan perpaduan antara tradisi Islam, budaya sungai, dan seni cahaya menjadikannya berbeda dari festival lain di Indonesia.

Wisatawan yang datang tidak hanya disuguhkan pemandangan lampu yang indah, tetapi juga dapat merasakan atmosfer khas Ramadhan ala masyarakat Banjar. Suasana hangat, keramahan warga, serta kekayaan budaya lokal menciptakan pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain.

Festival ini juga menjadi bukti bahwa tradisi daerah mampu berkembang menjadi daya tarik wisata yang modern tanpa kehilangan akar budayanya. Cahaya tanglong yang dahulu hanya menerangi jalan-jalan kampung kini telah menjadi simbol identitas budaya Banjar yang bersinar hingga ke tingkat nasional.

Kesimpulan

Festival Tanglong adalah salah satu warisan budaya paling berharga yang dimiliki masyarakat Banjar. Berawal dari tradisi sederhana menggunakan pelita damar, festival ini tumbuh menjadi perayaan budaya yang memadukan nilai keislaman, kreativitas seni, kehidupan sungai, dan semangat kebersamaan.

Di balik gemerlap lampu dan keindahan dekorasinya, terdapat pesan yang lebih dalam tentang pelestarian tradisi, penghormatan terhadap nilai spiritual Ramadhan, serta pentingnya menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi. 

Festival Tanglong bukan hanya tentang cahaya yang terlihat oleh mata, melainkan juga tentang cahaya budaya yang terus hidup dalam hati masyarakat Kalimantan Selatan dari masa ke masa.

 

Related Posts

Festival Jukung Hias Banjarmasin
Festival Seni Tahunan Banjarmasin Art Week
Festival Sasirangan Banjarmasin
Banjar Media Editorial Team

Research and Analyst Team

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *

Pengalaman Anda di situs ini akan ditingkatkan dengan mengizinkan cookie.