Destinasi Wisata Religi dan Sejarah yang Paling Penting di Banjarmasin
Jejak Raja Pertama Kesultanan Banjar dan Awal Sejarah Islam di Kalimantan Selatan
Di kawasan Kuin Utara, tepat di tepi Sungai Kuin yang menjadi salah satu urat nadi kehidupan masyarakat Banjar sejak berabad-abad lalu, berdiri sebuah kompleks makam yang memiliki nilai sejarah sangat tinggi bagi Kalimantan Selatan.
Tempat tersebut adalah Makam Sultan Suriansyah, makam raja pertama Kesultanan Banjar sekaligus penguasa pertama Banjar yang memeluk Islam.
Kompleks makam ini beralamat di Jalan Kuin Utara RT 09, Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin. Lokasinya berada tidak jauh dari Sungai Kuin dan hanya sekitar 500 meter dari Masjid Sultan Suriansyah yang terkenal sebagai masjid tertua di Kalimantan Selatan.
Dari pusat Kota Banjarmasin, lokasi makam dapat dicapai dalam waktu sekitar 10 hingga 15 menit menggunakan mobil maupun sepeda motor.
Namun bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana khas Kota Seribu Sungai, perjalanan menuju makam juga dapat dilakukan melalui jalur air menggunakan klotok dari kawasan Siring Sungai Martapura.
Perjalanan menyusuri sungai ini memberikan pengalaman tersendiri karena pengunjung dapat melihat kehidupan masyarakat sungai yang masih bertahan hingga saat ini.
Hingga sekarang, Makam Sultan Suriansyah menjadi salah satu tujuan wisata religi paling ramai di Kalimantan Selatan. Selain dikunjungi masyarakat lokal, kawasan ini juga sering didatangi peziarah dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dari luar negeri seperti Brunei Darussalam dan Malaysia.
Raden Samudera yang Mengubah Sejarah Banjar
Nama Sultan Suriansyah memiliki posisi yang sangat penting dalam sejarah Kalimantan Selatan. Sebelum menjadi sultan, beliau dikenal dengan nama Raden Samudera. Ia merupakan cucu Maharaja Sukarama, penguasa Kerajaan Negara Daha yang pernah menjadi kerajaan besar di wilayah Kalimantan Selatan.
Dalam perjalanan hidupnya, Raden Samudera berhasil mendirikan Kesultanan Banjar dan kemudian naik takhta sebagai penguasa kerajaan. Setelah menjadi raja, ia dikenal dengan sebutan Pangeran Samudera.
Peristiwa paling bersejarah terjadi pada tahun 1526 Masehi atau 963 Hijriah ketika Pangeran Samudera memeluk agama Islam. Proses pengislaman tersebut dilakukan oleh Khatib Dayan, seorang ulama yang datang dari Kesultanan Demak.
Setelah memeluk Islam, Pangeran Samudera berganti nama menjadi Sultan Suriansyah. Dalam berbagai sumber sejarah, beliau juga dikenal dengan beberapa nama lain seperti Suryanullah, Sultan Suria Angsa, serta Panembahan atau Susuhunan Batu Habang.
Sultan Suriansyah memerintah Kesultanan Banjar selama kurang lebih 24 tahun, yaitu dari tahun 1526 hingga 1550 Masehi. Masa pemerintahannya menjadi titik awal perkembangan Islam di Kalimantan Selatan sekaligus tonggak berdirinya Kesultanan Banjar sebagai kerajaan Islam.
Karena perannya yang sangat besar, tanggal 26 September 1526 kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Banjarmasin. Penetapan ini didasarkan pada masa awal pemerintahan Sultan Suriansyah yang dianggap sebagai awal terbentuknya identitas Banjarmasin modern.
Peran Besar Khatib Dayan dalam Penyebaran Islam di Banjar
Ketika membahas sejarah Sultan Suriansyah, nama Khatib Dayan tidak dapat dipisahkan dari perjalanan tersebut. Ulama yang berasal dari Kesultanan Demak ini memiliki peran sangat besar dalam perkembangan Islam di Banjar.
Khatib Dayan diyakini masih memiliki hubungan keturunan dengan Sunan Gunung Jati dari Cirebon. Beliaulah yang membimbing Raden Samudera memeluk Islam dan kemudian aktif menyebarkan ajaran Islam di wilayah Banjar hingga akhir hayatnya.
Karena jasa-jasanya tersebut, makam Khatib Dayan juga berada di dalam kompleks Makam Sultan Suriansyah dan menjadi salah satu lokasi yang banyak diziarahi pengunjung.
Kompleks Makam yang Menyimpan Banyak Tokoh Penting Kesultanan Banjar
Saat memasuki kompleks makam, pengunjung akan melihat kawasan berukuran sekitar 50 x 40 meter yang menaungi belasan makam bersejarah di bawah satu cungkup besar.
Makam Sultan Suriansyah menjadi makam yang paling menonjol di antara seluruh makam yang ada. Makam ini memiliki ukuran paling besar dengan pagar berukuran sekitar 6,4 meter x 3,6 meter x 2,35 meter. Di sampingnya terdapat makam ibunda beliau, yaitu Ratu Intan Sari.
Tidak jauh dari makam utama, terdapat pula makam Sultan Rahmatullah yang merupakan putra Sultan Suriansyah dan dikenal pula dengan gelar Sunan Batu Putih.
Kompleks ini juga menjadi tempat peristirahatan Sultan Hidayatullah I, cucu Sultan Suriansyah yang dikenal dengan gelar Sunan Batu Hirang. Makam beliau memiliki ukiran kayu khas Jepara yang sangat indah dan bernilai seni tinggi.
Selain keluarga kerajaan, terdapat pula makam Patih Masih atau Kyai Patih Pangeran Djaga Baya yang memiliki peran penting dalam sejarah Banjar. Ada pula makam Patih Kuin yang dikenal sebagai Pangeran Jaya Buana.
Kompleks makam ini juga menjadi tempat dimakamkannya Putri Galuh Intan Sari, Syaikh Abdul Malik atau Tuan H Batu, serta sebuah makam yang dikenal masyarakat dengan sebutan Makam Anak Cina karena berdasarkan tulisan pada nisannya menunjukkan adanya keturunan Tionghoa.
Menariknya lagi, terdapat lima makam tanpa identitas yang hingga kini belum diketahui secara pasti siapa tokoh yang dimakamkan di dalamnya. Sebagian makam tersebut berada di bagian belakang makam Sultan Suriansyah.
Beberapa hulubalang kerajaan juga dimakamkan di kawasan ini, termasuk Pangeran Muhammad, Pangeran Ahmad, Sayyid Muhammad, dan Gusti Muhammad Arsyad.
Keunikan Arsitektur dan Fisik Kompleks Makam
Kompleks Makam Sultan Suriansyah memiliki berbagai elemen arsitektur yang menarik. Seluruh makam dilengkapi pagar yang memadukan beton, besi, dan kayu ulin dengan ornamen floral yang memperindah kawasan.
Nisan-nisan yang digunakan sebagian besar berupa kayu dengan tinggi sekitar 40 sentimeter. Di atas seluruh makam berdiri satu atap besar hasil pemugaran yang dilakukan pada pertengahan tahun 1980-an.
Sejarah pemugaran kawasan ini dimulai melalui studi dan penelitian pada tahun 1982 hingga 1983. Selanjutnya pembangunan cungkup baru dilakukan pada tahun 1985 hingga 1986 untuk melindungi seluruh makam dari kerusakan akibat cuaca.
Keberadaan juru pelihara resmi hingga saat ini membantu menjaga kelestarian kawasan sehingga tetap bersih dan nyaman dikunjungi peziarah.
Di dalam kawasan juga tersedia halaman yang cukup luas untuk parkir kendaraan. Selain itu terdapat museum sederhana yang menyimpan berbagai informasi sejarah, meskipun koleksinya masih terus dikembangkan.
Tersedia pula dermaga yang menjadi akses bagi pengunjung yang datang melalui jalur sungai.
Tradisi Ziarah yang Terus Hidup dari Generasi ke Generasi
Sebagai salah satu situs religi terpenting di Kalimantan Selatan, Makam Sultan Suriansyah selalu ramai dikunjungi masyarakat.
Mayoritas pengunjung datang untuk berziarah dan berdoa sebagai bentuk penghormatan kepada Sultan Suriansyah dan para tokoh yang dimakamkan di kawasan tersebut. Banyak pula rombongan majelis taklim yang secara rutin mengadakan kegiatan doa bersama di lokasi ini.
Tradisi tabur bunga juga menjadi kegiatan yang umum dilakukan. Bunga biasanya ditaburkan di makam Sultan Suriansyah, Khatib Dayan, Patih Masih, dan makam-makam lainnya yang berada dalam kompleks.
Selain untuk beribadah, banyak pengunjung datang untuk mempelajari sejarah Kesultanan Banjar serta mengenal tokoh-tokoh penting yang berperan dalam perkembangan Islam di Kalimantan Selatan.
Kompleks makam biasanya ramai pada masa libur Lebaran ketika tradisi ziarah keluarga masih dijaga oleh masyarakat Banjar. Kawasan ini juga menjadi lokasi ziarah resmi Pemerintah Kota Banjarmasin dan Forkopimda setiap peringatan Hari Jadi Kota Banjarmasin.
Untuk menjaga kesakralan tempat, pengunjung dianjurkan mengenakan pakaian yang sopan. Busana muslim menjadi pilihan yang paling umum digunakan, terutama oleh peziarah perempuan yang mendominasi kunjungan bersama anak-anak dan keluarga.
Yang menarik, seluruh pengunjung dapat memasuki kompleks makam tanpa dipungut biaya tiket masuk maupun biaya parkir sehingga wisata sejarah ini dapat dinikmati secara gratis.
Masjid Sultan Suriansyah, Masjid Tertua di Kalimantan Selatan
Tidak lengkap rasanya berkunjung ke Makam Sultan Suriansyah tanpa singgah ke Masjid Sultan Suriansyah yang berjarak sekitar 500 meter dari kompleks makam.
Masjid ini merupakan salah satu bangunan Islam tertua di Kalimantan Selatan dan diperkirakan dibangun tidak lama setelah Sultan Suriansyah memeluk agama Islam pada tahun 1526.
Selama hampir lima abad, bangunan ini menjadi saksi perkembangan Islam di Banjar. Renovasi besar pernah dilakukan pada tahun 1976 dan kembali dilaksanakan pada tahun 1999 untuk menjaga kelestarian bangunan bersejarah tersebut.
Arsitektur Kayu Ulin yang Bertahan Hampir Lima Abad
Salah satu keistimewaan Masjid Sultan Suriansyah terletak pada penggunaan kayu ulin sebagai bahan utama konstruksi. Hampir seluruh bagian bangunan, mulai dari dinding, pintu, jendela, pagar teras, lantai hingga atap dibuat dari kayu ulin.
Kayu yang sering disebut sebagai kayu besi ini terkenal sangat kuat, tahan terhadap air, tahan terhadap perubahan cuaca, serta mampu bertahan selama ratusan tahun.
Bangunan masjid menggunakan konstruksi panggung yang merupakan ciri khas arsitektur tradisional Banjar. Atapnya menggunakan sirap kayu ulin yang semakin memperkuat nuansa tradisional bangunan.
Atap Tumpang Tiga yang Menjadi Ikon Masjid Kuno Banjar
Bagian paling mencolok dari masjid adalah atap tumpang tiga atau tumpang talu yang menjadi ciri khas masjid-masjid kuno di Kalimantan Selatan.
Bentuk atap ini memperlihatkan pengaruh kuat dari Masjid Agung Demak di Jawa. Pada bagian atas terdapat ornamen tradisional berupa sungkul dan jamang yang mempercantik tampilan bangunan.
Tidak hanya memiliki nilai estetika, bentuk atap bertingkat ini juga mengandung simbolisme spiritual yang erat kaitannya dengan perkembangan Islam di Nusantara.
Mihrab Unik dengan Simbol Enam Rukun Iman
Keunikan lain yang jarang ditemukan pada masjid lain adalah keberadaan mihrab yang memiliki atap tersendiri dan terpisah dari bangunan utama.
Atap mihrab berbentuk limas dengan dasar segi enam. Bentuk segi enam tersebut dipercaya melambangkan enam rukun iman dalam ajaran Islam.
Bagian ini juga dihiasi ukiran khas Banjar yang sangat detail sehingga menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan yang menyukai arsitektur tradisional.
Simbolisme Islam dalam Setiap Sudut Bangunan
Masjid Sultan Suriansyah memiliki total 17 pintu yang tersebar pada berbagai sisi bangunan. Lima pintu berada di sisi kanan, lima di sisi kiri, lima di bagian belakang, serta dua pintu pada area mimbar.
Bangunan masjid juga dirancang dalam empat tingkatan yang masing-masing memiliki makna filosofis.
Tingkatan pertama melambangkan syariat Islam, tingkatan kedua menggambarkan pelaksanaan syariat, tingkatan ketiga melambangkan hakikat Islam, sedangkan tingkat tertinggi atau atap melambangkan makrifat atau pengetahuan spiritual tertinggi.
Di area mimbar terdapat berbagai kaligrafi dan inskripsi Arab yang masih terpelihara hingga sekarang. Nuansa warna hijau yang mendominasi interior semakin memperkuat identitas religius bangunan bersejarah tersebut.
Paket Wisata Sejarah Terbaik di Kawasan Kuin Utara
Kawasan Kuin Utara menawarkan pengalaman wisata yang lengkap dalam satu lokasi. Wisatawan dapat memulai perjalanan dengan berziarah ke Makam Sultan Suriansyah, kemudian melanjutkan kunjungan ke Masjid Sultan Suriansyah yang berusia hampir 500 tahun.
Setelah itu, perjalanan dapat diteruskan menuju Pasar Terapung Kuin yang terkenal di tepi Sungai Barito atau menikmati wisata susur sungai menggunakan klotok melalui dermaga yang tersedia di kawasan tersebut.
Perpaduan antara sejarah kerajaan, perkembangan Islam, budaya sungai, dan arsitektur tradisional menjadikan kawasan Kuin Utara sebagai salah satu destinasi wisata paling berharga di Kalimantan Selatan.
Bagi siapa pun yang ingin memahami sejarah Banjar secara lebih mendalam, Makam Sultan Suriansyah dan Masjid Sultan Suriansyah adalah tempat yang wajib masuk dalam daftar kunjungan.